Lentera Merah

Information in Your Fingertips

Bahaya Limbah FABA Bagi Lingkungan dan Masyarakat Sekitar

FABA terjadi di Lakardowo Jatim
Kasus pencemaran FABA yang terkenal adalah kasus Lakardowo di Mojokerto, Jawa Timur. (Photo : Kolase LM)

Malang, X-File.id – Diterbitkannya PP No 22 tahun 2021 terkait pengeluaran Fly Ash Bottom Ash (FABA) dari bahan B3, yang merupakan kepanjangan tangan dari Omnibus Law, dianggap tidak mendukung upaya menjaga lingkungan. Karena FABA terbukti menurunkan kualitas lingkungan dan mempengaruhi kesehatan masyarakat disekitarnya.

Salah satu kasus pencemaran FABA yang terkenal adalah kasus Lakardowo di Mojokerto, Jawa Timur. Dimana, diduga terjadi penimbunan limbah di area dusun yang mengakibatkan tidak hanya penurunan kualitas lingkungan tapi juga menimbulkan konflik sosial di masyarakat.

Aktivis Perjuangan Lakardowo, Sutamah menjelaskan kenapa ia berjuang karena pabrik yang seyogianya mengelola limbah B3 ternyata hanya melakukan penimbunan di dusunnya.

“Limbah yang ditimbun ini adalah limbah FABA dan limbah medis. Akibatnya, mencemari lingkungan kami, mencemari air kami. Ini lah yang kami perjuangkan. Dan dengan adanya PP ini malah membuat pengelolaan limbah ini semakin ngawur. Karena itu, kami memohon pertimbangan pemerintah untuk mempertimbangkannya,” kata Sutamah dalam acara online, Rabu (28/4/2021).

Dampak yang langsung dirasakan oleh masyarakat adalah penyakit gatal yang harus dirasakan oleh masyarakat dan akhirnya harus mengkonsumsi obat untuk menghilangkan rasa gatal yang timbul akibat bersinggunan dengan air sumur.

“Kalau untuk mandi bayi, minum, masak, kami sudah mempersiapkan tandon air. Saat ini ada 5 tandon yang tersebar di penjuru dusun sebagai penyedia air masyarakat. Tapi kalau untuk orang dewasa, mau tidak mau mandi ya tetap pakai air sumur. Karena kalau semuanya pakai air tandon, yang harus dibeli, secara ekonomi masyarakat tidak sanggup,” ujarnya.

Dalam tatanan sosial, Sutamah menyampaikan permasalahan limbah ini juga menimbulkan perselisihan di masyarakat.

“Antara saudara saya saja ribut. Saling mengejek. Ada saudara saya yang bekerja di pabrik yang dimasalahkan dan ada saudara yang lain yang tidak bekerja di pabrik tersebut. Sering saling ejek dan tidak saling berkunjung. Bahkan saat lebaran sekalipun,” tuturnya.

Tak hanya itu, jika ada pekerja pabrik tersebut yang meninggal, masyarakat yang memperjuangkan lingkungan tidak mau datang untuk nyelawat.

“Begitu pula sebaliknya. Tidak ada lagi dusun yang dulu pernah saya tahu. Semua sudah berubah karena masalah limbah ini,” ungkapnya dengan sedih.

Sutamah menyebutkan masalah yang juga harus dihadapi masyarakat adalah pengeluaran tambahan untuk membeli air dan obat.

“Kalau dulu belanja dari suami itu hanya untuk membeli sayur atau kebutuhan anak. Sekarang nambah. Harus beli air tiap hari. Lalu harus membeli obat juga. Karena tidak bisa lepas dari obat. Akhirnya musti kebagi-bagi uangnya,” tuturnya.

Salah seorang warga, Faroh memandikan bayinya dengan air kemasan, karena menakutkan bayinya terkena ruam jika memandikan dengan air sumur.

“Buat mandi bayi, sehari dua kali, buat minum dan masak semuanya pakai air kemasan. Kalau pakai air sumur takut gatal-gatal. Yang ada nanti malah jadi sakit,” kata Faroh kunjungan virtual di Lakardowo.

Anak pertamanya, yang berusia 7 tahun, awalnya tidak mengalami masalah gatal saat menggunakan air sumur.

“Tapi pada saat pabrik berdiri, yaitu saat anaknya berumur 5 tahun, baru mulai ada keluhan gatal-gatal. Jadi ya tidak ada pilihan. Harus beli air untuk mandi anak-anak,” ungkapnya.

Sineas Muda Lingkungan pembuat film Lakardowo Mencari Keadilan, Linda Nursanti, menyatakan hingga saat ini dirinya masih terus mengikuti kasus Lakardowo paska pembuatan filmya di tahun 2018 lalu.

“Saya masih mengikuti kasusnya, yang sekarang masuk ke jalur hukum. Jadi rencananya akan menjadi film kedua dari Lakardowo Mencari Keadilan,” kata Linda dalam acara yang sama.

Jika dibandingkan pada masa ia membuat film pada tahun 2016, dengan kondisi saat ini, ia melihat ada tiga kondisi. Ada yang membaik, stagnan dan memburuk.

“Untuk yang membaik, dalam kasus gatal-gatal yang diderita penduduk. Tidak separah zaman dulu. Sepanjang 6 bulan, ada sekitar 300 lebih penderitanya. Kalau sekarang sudah berkurang, dengan upaya masyarakat mencari alternatif sumber air lainnya. Dan kemungkinan karena makan obat terus,” urainya.

Kondisi stagnan terlihat pada asap hitam dan timbunan limbah yang masih terlihat di rumah-rumah warga.

“Kalau yang memburuk adalah kondisi masyarakat yang terus saja kalah gugatan dan tidak ada hasil yang memuaskan. Dan ini membuat semangat warga menurun. Memang melelahkan memperjuangkan hal seperti ini,” ungkapnya.(Jhn/Red)

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *