Lentera Merah

Information in Your Fingertips

Pecel Madiun Cileungsi yang Laris Manis di Serbu Pembeli

Pecel Madiun di Cileungsi
Pecel Madiun Bu Sur Cileungsi terasa lebih pedas dan segar, Sehingga namanya menyebar hingga ke seluruh Indonesia bahkan mancanegara.(Photo : Koes)

Bogor, LM – Kekhasan pecel Madiun adalah pada bumbunya. Berbeda dengan pecel dari Jawa Tengah dan Yogyakarta, bumbu pecel Madiun terasa lebih pedas dan segar. Sehingga pecel Madiun menyebar di seluruh Indonesia hingga mancanegara.

Bu Sur, pedagang pecel Madiun di salah satu gerbang perumahan Cileungsi, menyatakan sejak awal ia berdagang pecel Madiun para pembeli selalu ramai dengan pembeli.

“Kalau buka jam 7 pagi, jam 9an ya sudah habis. Kata mereka sih enak. Jadi kalau hari libur, biasanya saya bikin lebih banyak. Karena kalau hari libur, lebih banyak yang beli,” kata Bu Sur saat ditemui Lenera Merah.com di Gandoang Cileungsi Bogor Timur, Sabtu (13/2/2021).

Ia menjelaskan pembeli bisa memilih antara nasi atau lontong sebagai pendamping sarapan pagi.

“Kalau tahu goreng sama peyek kacang, memang sudah jadi paket awalnya. Tapi ada tempe mendoan yang mendampingi,” ujarnya dengan logat yang kental.

Bumbunya, lanjutnya, dibuatnya sendiri seperti bumbu Madiun asli. Khasnya, ada tambahan daun jeruk yang membuat rasa bumbu menjadi lebih segar.

“Untuk sayurnya, ada bayam, toge, kacang panjang dan kol. Semuanya direbus dan sudah diaduk rata sebelum disajikan. Jadi kalau pembeli datang, tinggal ambil saja, gak usah dicampur lagi. Nanti tinggal siram kuah saja sama ditaruh peyek dan potongan tahu goreng,” paparnya.

Sejarah pecel ini sendiri sangat beragam dari berbagai literatur. Salah satunya, disebutkan pecel pertama kali dikenal sejak Sunan Kalijaga bertemu dengan Ki Gede Pemanahan.

Saat bertemu, Ki Gede Pemanahan menghidangkan sepiring sayuran sambel pecel, nasi, serta lauk pauk lainnya.

Sunan Kalijaga kemudian bertanya “Hidangan apa ini?”

Kemudian dijawab oleh Ki Gede Pamanagan, “Puniko ron ingkang dipun pecel (red : ini adalah dedaunan yang direbus dan diperas airnya)”.

 Asal muasal sebutan pecel dari Ki Gede Pamanahan, ketika ia mengucapkan dipun pecel yang artinya diperas airnya.

Aslinya, satu porsi pecel biasanya berisi aneka ragam sayuran berupa kangkung, bayam, ubi jalar, daun ketela, daun beluntas, daun pegagan, kecombrang, polong, kacang panjang, kecipir, kecambah dan aneka sayur lainnya yang kemudian diberi siraman tumbukan kacang tanah yang sudah dicampur air, cabe, gula merah dan perasan jeruk purut.

 “Tapi kalau saya, yang ketemu aja sayurannya. Kalau mengikuti yang asli, takutnya ada yang gak suka. Yang penting resep bumbu kacangnya saja, yang khas Madiun,” pungkas Bu Sur.(Gpt/Red)

 

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *