Lentera Merah

Information in Your Fingertips

Rasi,Tak Terpengaruh Naiknya Harga Bahan Pokok

Rasi dari Kampung Adat Cireundeu
Awal kebiasaan mengkonsumsi ketela atau singkong sebagai bahan pokok telah menjadi turun temurun sejak puluhan tahun lalu.(Photo : Asp)

Bogor, LM – Prinsip hidup Teu Nyawah Asal Boga Pare, Teu Boga Pare Asal Boga Beas, Teu Boga Beas Asal Bisa Nyangu, Teu Nyangu Asal Dahar, Teu Dahar Asal Kuat yang memiliki arti tidak punya sawah asal punya beras, tidak punya beras asal dapat menanak nasi, tidak punya nasi asal makan, tidak makan asal kuat, diterapkan menjadi nilai kearifan lokal di Kampung Adat Cireundeu. Ujaran ini merupakan filosofis hidup warga Kampung Adat Cireundeu yang menjadikan mereka dikenal sebagai Kampung Singkong.

Juru Bicara Kampung Adat Cireundeu, Sudrajat menjelaskan awal kebiasaan mengkonsumsi ketela atau singkong sebagai bahan pokok telah menjadi turun temurun sejak puluhan tahun lalu.

“Para leluhur pernah berpesan agar warga menanam ketela menggantikan padi. Diawali saat sawah-sawah yang ditanami padai mengering dan menyebabkan fuso sekitar tahun 1918. Jadi, para leluhur Kampung Adat Cireundeu menyarankan untuk menanam ketela sebagai penggati padi. Karena ketela dapat ditanam pada saat musim kering maupun musim penghujan,” kata Kang Jajat, demikian ia akrab dipanggil, dalam acara budaya di Museum Tanah dan Pertanian, Bogor, Minggu (30/5/2021).

Sejak tahun 1924, ia menyebutkan, masyarakat Cireundeu sudah mulai mengkonsumsi ketela hingga saat ini.

“Manfaatnya, warga Kampung Adat Cireundeu tidak terpengaruh oleh harga bahan pokok yang melambung tinggi. Saat ini bahkan sudah menjadi aspek wisata kuliner,” ucapnya.

Kang Jajat menyebutkan, karena sudah menjadi budaya, warga Kampung Adat Cireundeu bisa memaksimalkan tanaman ketela.

“Ketela dapat diolah menjadi aci atau sagu dengan  cara digiling kemudian diendapkan lalu disaring. Sementara, ampas ketela bisa dijadikan beras dengan cara dijemur. Kami menyebutnya rasi atau angeun,” paparnya.

Beras singkong (rasi) awal mulanya digagas oleh Ibu Omah Asnamah, Putra Bapak Haji Ali yang kemudian diikuti oleh seluruh warga Kampung Adat Cireundeu.

“Berkat inovasinya tersebut pada 1946 Pemerintahan melalui Wedana Cimahi memberikan penghargaan kepada Ibu Omah Asnamah sebagai Pahlawan Pangan,” paparnya lagi.

Bahkan nama ini kemudian diperkuat dengan adanya sebuah patung singkong di depan garbang masuk Kampung Adat Cireundeu.

“Sebagai bahan makanan pokok, singkong di Kampung Adat Cireundeu perharinya bisa memproduksi rasi sekitar 5 sampai 7 kuintal. Dan jika musim kemarau tiba, kuantitas rasi bahkan bisa mencapai 1 ton perharinya,” kata Kang Jahat.

Produksi rasi yang cukup besar ini didukung oleh luas lahan kebun singkong di Kampung Cireundeu yang mencapai 17 hektar.

Kang Jajat mengungkapkan masyarakat Kampung Adat Cireundeu berkeyakinan bahwa tradisi mempertahankan rasi ini nantinya dapat menjawab tantangan swasembada pangan di Indonesia.

“Untuk mengolah sendiri beras singkong juga sama dengan menanak nasi pada umumnya. Sama halnya memakan dengan nasi, warga sehari-harinya mengkonsumsi rasi bersama lauk pauk dan aneka sayuran,” pungkasnya.(Hgt/Red)

 

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *