Rusia Masuk ke Pasar Uranium Niger, Harga 2025 yang Mengubah Peta Lama

Kesepakatan Rusia Niger Uranium 2025 mencatat lonjakan harga signifikan dibandingkan nilai yang selama ini dibayar Prancis. Laporan The Spearhead dan Business Insider Africa menunjukkan bahwa perbedaan harga tersebut membuka kembali diskusi tentang hubungan ekonomi Niger dengan mitra lamanya. Artikel ini menelusuri perubahan nilai itu dan dampaknya terhadap posisi tawar Niger.
Kesepakatan Rusia Niger uranium tahun 2025.
Harga uranium Niger pada 2025 yang ditawarkan Rusia menyoroti perbedaan tajam dengan harga lama Prancis. Niger selama 55 tahun dieksploitasi dengan harga murah.

LENTERAMERAH – Kesepakatan uranium antara Rusia dan Niger pada 2025 memunculkan perubahan penting dalam pola perdagangan mineral strategis di Sahel. Business Insider Africa melaporkan bahwa Rusia menyetujui pembelian 1.000 ton uranium dengan nilai sekitar $170 juta, atau $170.000 per ton. Angka ini jauh di atas harga yang sebelumnya diterima Niger dari Prancis.

Perubahan tersebut menarik perhatian karena pada 2023, menurut laporan The Spearhead, Prancis membayar sekitar $56.635 per ton untuk volume lebih besar. Perbandingan kedua harga itu memperlihatkan selisih hampir tiga kali lipat. Kesenjangan ini membuka diskusi baru mengenai nilai uranium Niger dan bagaimana harga lama terbentuk selama dekade sebelumnya.

Laporan Business Insider Africa mencatat bahwa kesepakatan dengan Rusia terjadi setelah perubahan politik besar di Niger pada 2023. Pemerintah baru mulai meninjau kembali kontrak pertambangan yang dianggap tidak memberikan nilai optimal bagi negara. Konteks ini membantu menjelaskan mengapa Niger membuka peluang bagi pembeli baru selain Prancis.

Masuknya Rusia bukan hanya menambah pemain dalam rantai pasok uranium, tetapi juga memberi referensi harga baru. Nilai yang ditawarkan Moskow mengindikasikan bahwa uranium Niger selama ini dibeli dengan tarif yang tidak mencerminkan potensi ekonominya. Perubahan harga ini memberi ruang bagi Niger untuk meninjau ulang struktur pemasukan dari sektor strategis tersebut.

The Spearhead dalam laporannya menyebut bahwa jika harga 2025 dijadikan acuan, pendapatan Niger dari uranium pada 2023 bisa mencapai lebih dari $500 juta. Sebaliknya, pendapatan aktual negara tersebut hanya sekitar $191 juta. Selisih besar ini memunculkan pertanyaan mengenai transparansi dan proporsionalitas harga masa lalu.

Dari perspektif kebijakan energi, laporan media Prancis menandai kekhawatiran Paris atas hilangnya akses dengan harga murah. Uranium Niger telah lama menjadi bagian penting dari pasokan bahan bakar bagi industri nuklir Prancis. Kenaikan harga berarti biaya energi yang lebih tinggi, yang dalam beberapa tahun terakhir telah menjadi isu domestik di Prancis.

Di sisi lain, pejabat Niger yang dikutip dalam pemberitaan regional menyatakan bahwa negara tersebut perlu memastikan bahwa sumber daya strategis dikelola dengan nilai yang mendekati harga pasar internasional. Perubahan ini memberi sinyal bahwa Niger berupaya memperkuat posisi tawarnya.

Kondisi tersebut juga menunjukkan bagaimana satu keputusan perdagangan dapat mempengaruhi hubungan diplomatik dan struktur lama yang telah berlangsung selama puluhan tahun. ***