LENTERAMERAH – Di sebuah sudut kota Osaka, Jepang, secangkir kopi menjadi pertemuan antara waktu, kesabaran, dan ritual. The Münch café, sebuah kafe kecil yang dikelola secara personal, dikenal karena menyajikan kopi 30 tahun Jepang yang disimpan sejak 1976 dan diseduh dengan pendekatan yang jauh dari kebiasaan kafe modern.
Kopi tersebut disimpan di dalam barrel wiski Amerika, sebuah metode yang lebih lazim ditemukan dalam dunia minuman beralkohol. Pemilik kafe, Tanaka, memulai praktik ini puluhan tahun lalu, jauh sebelum budaya specialty coffee berkembang secara global. Bagi Tanaka, kopi bukan sekadar soal rasa, melainkan soal proses dan hubungan manusia dengan waktu.
Barrel-barrel kayu ek itu disimpan dalam kondisi tertutup selama puluhan tahun. Tidak ada produksi massal atau rotasi stok cepat. Kopi tersebut hanya disiapkan untuk momen tertentu dan pelanggan tertentu, menjadikannya bagian dari pengalaman yang langka dan terbatas.
Penyajian kopi di The Münch berlangsung perlahan dan hampir tanpa kata. Proses pour-over dilakukan dengan gerakan terukur, tenang, dan penuh perhatian. Ritual ini mencerminkan omotenashi Jepang, filosofi pelayanan yang menempatkan pengalaman tamu di atas segalanya. Dalam konteks ini, kopi berfungsi sebagai medium interaksi, bukan sekadar komoditas.
Kopi 30 tahun Jepang ini sering dibandingkan dengan praktik aging pada wiski atau anggur, di mana waktu dianggap mampu menambah kedalaman karakter. Dari sudut pandang tradisi, barrel kayu diyakini dapat menyumbangkan nuansa aroma tertentu, seperti kayu atau vanila, yang melekat pada biji kopi.
Namun, praktik tersebut juga memunculkan pertanyaan dari sudut pandang ilmiah. Penelitian di bidang ilmu pangan menunjukkan bahwa kopi cenderung kehilangan senyawa volatil seiring waktu akibat oksidasi. Aroma dan rasa yang biasanya dihargai dalam kopi segar dapat memudar, tergantikan oleh karakter yang lebih datar. Di titik inilah tradisi dan sains bertemu tanpa harus saling meniadakan.
Fenomena kopi tua ini memancing reaksi beragam di media sosial. Sebagian warganet memandangnya sebagai bentuk dedikasi ekstrem terhadap tradisi dan kesabaran. Sebagian lain merespons dengan skeptisisme dan humor, mempertanyakan nilai rasa dari kopi yang disimpan selama tiga dekade.
Terlepas dari perdebatan tersebut, daya tarik utama kopi 30 tahun Jepang di Osaka terletak pada ceritanya. Kopi ini tidak ditawarkan sebagai standar kualitas rasa universal, melainkan sebagai artefak budaya yang menyimpan jejak waktu, konsistensi, dan filosofi hidup sang peracik.
Di tengah dunia kopi global yang bergerak cepat dan mengejar konsistensi, The Münch café menghadirkan pendekatan yang bertolak belakang. Kopi di sini tidak mengejar tren, tidak pula mengejar efisiensi, melainkan membiarkan waktu menjadi bagian dari pengalaman yang disajikan kepada setiap tamu. ***



