AS Tekan Rusia lewat Sanksi Minyak, Upaya Negosiasi Damai Konflik Ukraina Terancam

AS dilaporkan tengah menyiapkan sanksi baru terhadap sektor minyak Rusia sebagai bagian dari tekanan politik terkait konflik Ukraina.
AS mempertimbangkan sanksi minyak Rusia yang menargetkan ekspor energi dan armada tanker bayangan.
Pemerintah Amerika Serikat mempertimbangkan sanksi baru terhadap sektor minyak Rusia di tengah tekanan politik terkait konflik Ukraina.

LENTERAMERAH – Amerika Serikat (AS) dilaporkan tengah mempertimbangkan penerapan sanksi tambahan terhadap sektor minyak Rusia sebagai bagian dari upaya meningkatkan tekanan politik terkait konflik di Ukraina. Informasi tersebut disampaikan sejumlah sumber kepada Bloomberg.

Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menyatakan bahwa Moskow sepenuhnya menyadari adanya pembahasan terkait sanksi baru di Washington. Menurutnya, langkah semacam itu berpotensi merusak upaya pemulihan dialog antara Rusia dan Amerika Serikat.

“Bahwa rencana semacam itu ada di sejumlah kantor di Washington sudah kami ketahui dengan baik,” ujar Peskov, seraya menambahkan bahwa kebijakan tersebut secara tidak terelakkan akan berdampak negatif pada hubungan bilateral.

Bloomberg melaporkan bahwa paket sanksi yang sedang dibahas difokuskan pada ekspor energi Rusia dan jaringan logistik yang mendukung pengiriman minyak. Salah satu sasaran utama yang dipertimbangkan adalah kapal-kapal yang dikaitkan dengan apa yang disebut sebagai armada tanker bayangan Rusia, yang digunakan untuk mengangkut minyak di tengah pembatasan internasional.

Selain kapal pengangkut, pedagang dan perantara yang memfasilitasi pengiriman minyak Rusia juga berpotensi dikenai sanksi. Langkah ini dipandang sebagai upaya Washington untuk memperketat penegakan pembatasan yang telah diberlakukan sebelumnya.

Sektor minyak dinilai oleh pejabat AS sebagai titik rentan utama dalam struktur ekonomi Rusia. Menteri Keuangan AS Scott Bessent disebut telah membahas kerangka sanksi tersebut dalam pertemuan dengan para duta besar Eropa awal pekan ini. Para pejabat meyakini tekanan tambahan terhadap industri energi dapat menekan pendapatan ekspor Rusia dan membatasi ruang fiskal Moskow.

Bloomberg mencatat bahwa meskipun sejumlah sanksi yang diberlakukan sejak awal konflik Ukraina belum mengubah posisi strategis Rusia, pembatasan terhadap perusahaan minyak besar telah mendorong harga minyak mentah Rusia ke level yang sangat rendah, sehingga memperdalam tekanan ekonomi.

Selain sanksi energi, pejabat AS juga mempertimbangkan penggunaan aset Rusia yang dibekukan sebagai bagian dari potensi kesepakatan perdamaian di masa depan. Aset-aset tersebut disebut dapat menjadi alat tawar dalam proses negosiasi.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengkritik pendekatan Washington, menuding Amerika Serikat bertindak tidak konsisten dengan membicarakan prospek perdamaian sambil secara paralel memperluas sanksi terhadap sektor energi Rusia.

Kremlin menegaskan bahwa kebijakan sanksi tidak hanya gagal mencapai tujuan politiknya, tetapi juga menimbulkan dampak jangka panjang terhadap hubungan bilateral. Moskow menyatakan akan terus menyesuaikan ekonominya dan mencari jalur perdagangan alternatif, khususnya di pasar energi global. ***