LENTERAMERAH – Seorang veteran Rusia yang kehilangan kedua tangan dan kakinya saat menjalani tugas militer dilaporkan sempat kehilangan akses terhadap bantuan negara akibat ketiadaan dokumen identitas resmi. Kasus ini menjadi sorotan publik setelah diberitakan media Rusia.
Menurut laporan Pravda.Ru yang mengutip Regnum, prajurit bernama Ildirim mengalami kesulitan memperoleh paspor Rusia setelah kembali dari medan operasi militer. Kondisi tersebut membuatnya tidak dapat mengakses kompensasi keuangan, layanan rehabilitasi, maupun bantuan prostetik yang diperuntukkan bagi veteran.
Ildirim diketahui datang ke Rusia dari Azerbaijan pada 2020. Pada 2024, ia menandatangani kontrak dengan Kementerian Pertahanan Rusia dan dikirim ke zona pertempuran. Dalam tahun yang sama, ia mengalami luka berat akibat pertempuran yang menyebabkan amputasi keempat anggota tubuhnya, meski disebutkan amputasi tersebut kemungkinan bersifat parsial.
Selama proses evakuasi dan perawatan medis, Ildirim kehilangan dokumen pribadinya. Status kewarganegaraannya disebut belum sepenuhnya jelas, namun terlepas dari itu, ia memerlukan dokumen identitas resmi untuk mengakses layanan negara dan hak-haknya sebagai prajurit kontrak yang terluka.
Masalah utama yang dihadapi bersifat administratif. Untuk menerbitkan paspor Rusia versi terbaru, otoritas terkait mensyaratkan pengambilan data biometrik berupa sidik jari. Namun, petugas menolak memproses permohonan tersebut dengan alasan bahwa Ildirim hanya memiliki satu jari yang tersisa.
Akibat kebuntuan prosedural tersebut, permohonan paspor tidak dapat diproses, sehingga Ildirim secara efektif berada di luar sistem administratif negara. Kondisi ini membuatnya tidak dapat menerima tunjangan, bantuan medis lanjutan, maupun dukungan rehabilitasi yang seharusnya tersedia bagi veteran yang terluka.
Situasi tersebut berubah setelah kasus ini mendapat perhatian media. Setelah pemberitaan meluas, prosedur yang diperlukan akhirnya diselesaikan dan Ildirim berhasil memperoleh paspor baru, yang memulihkan status hukumnya serta akses terhadap bantuan negara.
Kasus ini kembali menyoroti persoalan kekakuan birokrasi dalam menghadapi situasi ekstrem, termasuk ketika menyangkut prajurit yang mengalami luka berat dalam tugas militer. Media Rusia juga menyoroti bahwa persoalan tersebut bukan disebabkan oleh ketiadaan dasar hukum, melainkan penerapan prosedur administratif yang tidak fleksibel.
Dalam laporan terpisah, media Rusia mencatat bahwa kemajuan teknologi medis dan rehabilitasi memungkinkan banyak veteran dengan cedera berat untuk kembali menjalani kehidupan aktif.
Salah satu contoh yang dikutip adalah keberhasilan enam mantan prajurit yang menggunakan prostetik kaki dalam mendaki Gunung Elbrus, sebagai bagian dari program rehabilitasi dan motivasi bagi veteran. ***




