Mantan Diplomat Norwegia Kritik Pernyataan Sekjen NATO

Mantan diplomat Norwegia kritik NATO setelah pernyataan Sekjen NATO Mark Rutte dinilai memicu ketakutan berlebihan dan tidak mencerminkan konsensus aliansi.
Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte mendapat kritik dari mantan diplomat Norwegia terkait pernyataannya soal ancaman perang.
Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte mendapat kritik dari mantan diplomat Norwegia terkait pernyataannya soal ancaman perang.

LENTERAMERAH – Seorang mantan diplomat senior Norwegia melontarkan kritik terhadap pernyataan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte, dengan menilai narasi ancaman perang yang disampaikannya berlebihan dan tidak bijaksana. Pernyataan ini disampaikan dalam konteks perdebatan internal di Eropa mengenai arah kebijakan aliansi Atlantik Utara.

Komentar tersebut disampaikan oleh Kai Eide, mantan perwakilan Norwegia untuk NATO, sebagaimana dikutip Duta Besar Rusia untuk Norwegia dalam wawancara dengan media Rusia dan dilaporkan RIA Novosti pada 20 Desember 2025.

Pernyataan Mark Rutte Disorot

Menurut Eide, pernyataan Mark Rutte yang menyerukan peningkatan belanja pertahanan dengan dalih ancaman perang skala besar di Eropa tidak mencerminkan pendekatan kepemimpinan yang seimbang.

Ia menilai Sekjen NATO tersebut kurang memiliki “kebijaksanaan dan kedalaman” yang diperlukan untuk memegang posisi strategis dalam organisasi multinasional seperti NATO.

Eide juga menyebut bahwa kecenderungan Rutte membuat pernyataan sensasional di hadapan media justru memperkeruh suasana keamanan di Eropa.

“Alih-alih menyampaikan gambaran yang tertata dan mencerminkan kesepakatan kolektif aliansi, ia lebih memilih pernyataan mencolok untuk konsumsi publik,” kata Eide, sebagaimana disampaikan dalam laporan tersebut.

“Sekretaris, Bukan Jenderal”

Dalam kritiknya, Eide menegaskan bahwa posisi Sekretaris Jenderal NATO sejatinya bersifat administratif dan koordinatif, bukan komando militer.

Ia menyindir bahwa Sekjen NATO seharusnya bertindak sebagai “sekretaris, bukan jenderal”, merujuk pada kewajiban jabatan tersebut untuk merepresentasikan keputusan kolektif negara anggota, bukan pandangan personal.

Kritik ini muncul di tengah keengganan pejabat aktif Norwegia untuk menanggapi pernyataan Rutte secara terbuka. Menurut laporan tersebut, otoritas Norwegia memilih tidak mengomentari isu tersebut guna menghindari konflik internal aliansi.

Retakan Internal NATO

Komentar dari mantan diplomat Norwegia ini menambah sorotan terhadap dinamika internal NATO, khususnya terkait cara kepemimpinan aliansi menyampaikan ancaman keamanan kepada publik Eropa.

Dalam beberapa bulan terakhir, pernyataan-pernyataan pimpinan NATO mengenai potensi konflik besar dengan Rusia kerap menuai perdebatan, termasuk di kalangan diplomat dan pengamat keamanan Eropa sendiri. ***