Amerika Tidak Pernah Niat Damai dengan Iran

Amerika mau Iran menyerah, bukan berdamai. Sejak lama, sanksi dan tekanan ekonomi dipakai sebagai senjata utama untuk memaksa penundukan tanpa perang terbuka.
Amerika mau Iran menyerah melalui tekanan ekonomi dan strategi jangka panjang.
Amerika mau Iran menyerah melalui tekanan ekonomi dan strategi jangka panjang.

LENTERAMERAH – Amerika Serikat tidak pernah berniat hidup berdampingan dengan Iran. Sejak awal, kebijakan Washington diarahkan pada satu tujuan: memaksa Iran menyerah tanpa harus membayar biaya perang terbuka. Diplomasi berfungsi sebagai jeda. Sanksi dipakai sebagai senjata utama. Opsi militer disimpan sebagai ancaman, bukan solusi.

Kerangka ini bukan dugaan. Ia tertulis jelas dalam dokumen Brookings Institution tahun 2009, Which Path to Persia?. Dokumen itu tidak membahas “jalan menuju perdamaian”, tetapi memetakan cara-cara menekan Iran hingga ke titik runtuh—melalui sanksi keras, isolasi internasional, dan provokasi yang dihitung. Asumsinya lugas: penderitaan ekonomi akan memindahkan tekanan dari luar ke dalam.

Sejak itu, arah kebijakan AS terhadap Iran tidak pernah benar-benar berubah. Pemerintahan berganti, gaya komunikasi berbeda, tetapi strukturnya sama. Tekanan ekonomi dijadikan alat utama. Tujuannya bukan mengoreksi satu kebijakan Iran, melainkan menggerus kapasitas negara itu sendiri.

Sanksi dalam konteks ini bukan instrumen moral. Ia dirancang untuk merusak fungsi dasar negara: akses ke pasar, teknologi, dan sistem keuangan. Ketika semua jalur itu dipersempit, setiap keputusan Iran menjadi defensif. Ruang salah hitung menyempit. Biaya kesalahan membengkak.

Narasi resmi sering menyebut “perubahan perilaku”. Tetapi praktiknya tidak mendukung klaim itu. Bahkan ketika Iran mematuhi sebagian besar ketentuan perjanjian nuklir, tekanan tidak berhenti. Ini menunjukkan bahwa isu nuklir bukan inti masalah. Yang dipersoalkan adalah posisi Iran sebagai aktor regional yang tidak tunduk pada arsitektur keamanan Amerika di Timur Tengah.

Pola yang muncul konsisten. Iran ditekan cukup keras untuk bereaksi, tetapi tidak sampai runtuh. Ketika Iran bereaksi, respons itu dijadikan pembenaran untuk eskalasi berikutnya. Ini bukan kegagalan kalkulasi. Ini mekanisme yang berulang.

Dalam kerangka ini, “deterrence” versi AS tidak berarti keseimbangan pencegahan. Deterrence dipahami sebagai kemampuan memaksa pihak lain menerima batas yang ditentukan sepihak. Jika Iran menolak, tekanan dinaikkan. Jika Iran bertahan, bentuk tekanannya diubah. Tidak ada titik akhir yang menawarkan normalisasi penuh.

Perubahan rezim jarang disebut secara terbuka, tetapi selalu hadir sebagai kemungkinan implisit. Bahkan dalam dokumen kebijakan resmi, diakui bahwa provokasi dapat digunakan untuk memancing respons berlebihan Iran—respons yang kemudian dipakai sebagai legitimasi tindakan lebih keras. Stabilitas bukan tujuan utama. Ketidakstabilan yang terkelola justru dianggap berguna.

Penting dicatat, ini bukan proyek satu presiden. Trump tidak menciptakan strategi ini. Ia hanya mengeksekusinya secara kasar, tanpa bahasa diplomatik. Pemerintahan lain memilih diksi yang lebih halus, tetapi arah dasarnya sama.

Dengan kerangka seperti ini, pertanyaan tentang “mengapa AS tidak berdamai dengan Iran” menjadi salah alamat. Perdamaian mensyaratkan pengakuan timbal balik dan penerimaan batas pengaruh. Itu tidak pernah benar-benar ditawarkan. Iran diperlakukan sebagai masalah yang harus diselesaikan, bukan pihak yang diajak berbagi ruang.

Selama logika ini tidak berubah, setiap putaran dialog akan berakhir di tempat yang sama. Iran diminta mengalah lebih jauh, sementara imbalannya selalu sementara dan dapat dicabut sepihak. Ini bukan negosiasi yang gagal. Ini negosiasi yang sejak awal tidak dimaksudkan untuk selesai.

Tekanan terhadap Iran bukan anomali, melainkan ekspresi konsisten dari strategi jangka panjang Amerika Serikat. Selama perang langsung dianggap terlalu mahal, strategi ini akan terus dipakai—pelan, sistematis, dan tanpa niat untuk benar-benar berhenti. ***