LENTERAMERAH – Arab Saudi menolak mengizinkan wilayah udaranya digunakan untuk serangan Amerika Serikat ke Iran. Sikap ini memicu tanda tanya, mengingat hubungan Riyadh dan Teheran selama bertahun-tahun dikenal tegang. Namun keputusan tersebut tidak berkaitan dengan rekonsiliasi ideologis atau perubahan aliansi.
Penolakan Saudi berangkat dari kepentingan ekonomi yang sangat konkret. Sebagai negara yang bergantung pada ekspor minyak, Riyadh sangat sensitif terhadap setiap potensi guncangan di pasar energi global. Konflik militer besar di kawasan Teluk hampir pasti memicu ketidakstabilan harga.
Serangan terhadap Iran berisiko mengganggu jalur distribusi minyak, terutama di Selat Hormuz. Ketidakpastian pasokan biasanya mendorong volatilitas harga yang ekstrem. Bagi Arab Saudi, kondisi ini justru membahayakan perencanaan fiskal negara.
Pemerintah Saudi membutuhkan harga minyak yang relatif stabil untuk menjaga keseimbangan anggaran. Dalam beberapa tahun terakhir, tekanan terhadap keuangan negara meningkat seiring fluktuasi pasar energi. Eskalasi militer akan memperbesar risiko defisit dan menekan belanja publik.
Dalam konteks hubungan Saudi dan Iran, Riyadh menilai konflik terbuka tidak memberi keuntungan strategis. Iran yang tetap berada di bawah tekanan sanksi masih dapat dikalkulasikan dalam dinamika pasar. Situasi ini dianggap lebih terkendali dibandingkan dampak perang berskala besar.
Sikap Saudi juga mencerminkan perubahan pendekatan regional. Riyadh kini lebih berhati-hati dalam menyikapi konflik terbuka yang berpotensi menyeretnya ke dalam ketidakstabilan jangka panjang. Pertimbangan ekonomi menjadi faktor utama dalam pengambilan keputusan.
Arab Saudi menyadari bahwa perang di kawasan akan menempatkan infrastruktur energi sebagai sasaran. Ancaman terhadap fasilitas produksi dan distribusi minyak akan berdampak langsung pada pendapatan negara. Risiko tersebut dinilai terlalu tinggi untuk ditanggung.
Penolakan terhadap penggunaan wilayah udara juga menunjukkan batas dukungan Saudi terhadap kebijakan Washington. Kerja sama keamanan tetap berjalan, tetapi tidak sampai mengorbankan kepentingan ekonomi nasional. Riyadh memilih menjaga jarak dari eskalasi militer langsung.
Keputusan ini menegaskan bahwa dinamika Saudi, Iran, dan minyak kini lebih ditentukan oleh kalkulasi pasar daripada sentimen ideologis. Stabilitas energi menjadi prioritas yang mengalahkan rivalitas lama. Dalam situasi ini, Arab Saudi bertindak untuk melindungi kepentingannya sendiri. ***




