LENTERAMERAH – Nilai tukar rupiah melemah hingga Rp16.900 per dolar AS pada 19 Januari 2026. Di beberapa perbankan, rupiah bahkan sempat menembus Rp17.000.
Meski begitu, pemerintah menegaskan pelemahan ini bersifat sementara. Fundamental ekonomi Indonesia masih solid.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi faktor eksternal, termasuk dinamika global dan kebijakan suku bunga Amerika Serikat.
“Gak usah panik, rupiah akan menguat dalam dua pekan ke depan,” ujar Purbaya.
Fundamental Ekonomi Tetap Stabil
Purbaya menekankan pelemahan rupiah belum menekan APBN 2026. Neraca perdagangan Indonesia masih surplus.
Cadangan devisa cukup kuat untuk menahan gejolak nilai tukar.
“Kestabilan makroekonomi terjaga berkat pengelolaan fiskal yang disiplin dan koordinasi kebijakan moneter,” kata Purbaya.
Volatilitas Rupiah dan Faktor Global
Fluktuasi rupiah tidak lepas dari sentimen global. Ketidakpastian ekonomi dunia dan kebijakan bank sentral negara maju memengaruhi nilai tukar.
Bank Indonesia terus melakukan intervensi pasar dan kebijakan moneter untuk menjaga stabilitas rupiah.
Masyarakat diimbau meningkatkan literasi nilai tukar agar tidak terjebak kepanikan berlebihan.
Pelemahan Rupiah Jadi Peluang Ekspor
Pelemahan rupiah membuka peluang bagi sektor ekspor nasional.
Produk Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar internasional.
Harga yang lebih menarik memungkinkan pelaku usaha memperluas pasar ekspor dan meningkatkan volume penjualan.
Dampaknya bisa menambah devisa dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Pariwisata Diuntungkan
Sektor pariwisata juga bisa mendapat manfaat. Rupiah yang lebih rendah membuat biaya liburan di Indonesia lebih terjangkau bagi wisatawan mancanegara.
Destinasi populer seperti Bali diprediksi mengalami peningkatan kunjungan.
Hal ini memberi efek positif pada hotel, restoran, UMKM lokal, dan pemulihan ekonomi daerah.
Strategi Menghadapi Volatilitas
Masyarakat disarankan tetap rasional dan adaptif. Diversifikasi portofolio, penggunaan instrumen lindung nilai, serta mengikuti kebijakan Bank Indonesia penting untuk menjaga stabilitas keuangan pribadi.
Pendekatan ini membantu mencegah panic selling sekaligus memanfaatkan peluang ekonomi dari dinamika global.
Pemerintah optimistis pelemahan rupiah bersifat sementara.
Situasi ini bisa menjadi momentum strategis untuk penguatan sektor riil dan pertumbuhan ekonomi nasional.***




