LENTERAMERAH – Ketegangan di kawasan Timur Tengah yang berujung pada pemblokiran Selat Hormuz memicu kekhawatiran pasar energi global.
Jalur strategis yang dilintasi sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia itu berpotensi mendongkrak harga minyak mentah hingga 100–120 dolar AS per barel.
Situasi tersebut menimbulkan kecemasan akan dampaknya terhadap pasokan dan harga bahan bakar di dalam negeri.
Namun pemerintah memastikan distribusi energi nasional masih dalam kondisi terkendali.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan stok bahan bakar minyak (BBM) nasional cukup untuk 20 hari ke depan. Ia meminta masyarakat tidak terpengaruh isu kelangkaan yang beredar di media sosial.
Menurut Bahlil, arus impor minyak mentah dan BBM sejauh ini belum mengalami gangguan berarti.
Pemerintah terus melakukan pemantauan harian terhadap distribusi energi, termasuk berkoordinasi dengan operator kilang dan pelaku usaha sektor migas.
Selat Hormuz merupakan jalur utama pengiriman minyak dari Timur Tengah ke berbagai negara di Asia dan Eropa.
Gangguan berkepanjangan di kawasan ini berisiko memicu lonjakan harga energi global serta meningkatkan tekanan inflasi di banyak negara.
Indonesia yang masih mengimpor sekitar 1 juta barel minyak per hari turut menghadapi potensi dampak fiskal.
Setiap kenaikan 1 dolar AS harga minyak mentah dunia diperkirakan dapat menambah beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sekitar Rp10,3 triliun.
Untuk mengantisipasi risiko tersebut, pemerintah akan menggelar rapat Dewan Energi Nasional (DEN). Hasil pembahasan akan dilaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto sebagai bagian dari strategi menjaga ketahanan energi nasional.
Di sisi lain, Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan struktur ekonomi Indonesia relatif kuat karena ditopang konsumsi domestik.
Pemerintah berupaya menjaga daya beli masyarakat melalui pengendalian inflasi dan stabilisasi pasokan barang pokok.
Langkah mitigasi juga ditempuh oleh PT Pertamina Patra Niaga dengan menjalin nota kesepahaman bersama perusahaan energi asal Amerika Serikat, Hartree Partners LP dan Phillips 66.
Kerja sama tersebut mencakup pasokan minyak mentah dan LPG hingga 2,2 juta metrik ton sepanjang 2026.
Diversifikasi sumber impor dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan Timur Tengah.
Dengan alternatif suplai dari Amerika Serikat, risiko gangguan distribusi akibat konflik geopolitik dapat ditekan.
Pemerintah menegaskan pasokan BBM di seluruh SPBU Indonesia masih normal dan belum ada kebijakan kenaikan harga.
Masyarakat diimbau tetap tenang serta tidak melakukan pembelian berlebihan, sementara pemerintah menyiapkan berbagai skenario pengamanan energi di tengah ketidakpastian global.***



