Rupiah Menguat ke Rp16.903 per Dolar AS, Kebijakan BI Dinilai Tepat Jaga Stabilitas


LENTERAMERAH — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali bergerak menguat pada Kamis, 22 Januari 2026.

Berdasarkan data pasar valuta asing, rupiah berada di level Rp16.903 per dolar AS, menguat dibandingkan posisi sebelumnya di kisaran Rp16.929.

Penguatan rupiah ini menjadi sinyal positif di tengah dinamika global yang masih menekan pasar keuangan, khususnya mata uang negara berkembang.

Bank Indonesia (BI) dinilai berhasil menjaga stabilitas nilai tukar melalui kebijakan moneter yang konsisten dan terukur.

Rupiah Tahan Tekanan Eksternal

Sebelumnya, rupiah sempat mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar AS.

Tekanan tersebut dipicu oleh menguatnya dolar AS secara global seiring kebijakan suku bunga tinggi di negara maju dan meningkatnya ketidakpastian ekonomi internasional.

Bank Indonesia menegaskan bahwa pelemahan rupiah pada periode sebelumnya lebih disebabkan faktor eksternal, bukan karena kondisi fundamental ekonomi domestik.

Sejumlah mata uang emerging market lainnya juga mengalami tekanan serupa.

BI Pertahankan BI-Rate 4,75 Persen

Dalam Rapat Dewan Gubernur, Bank Indonesia memutuskan untuk menahan BI-Rate di level 4,75 persen. Kebijakan ini diambil untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar, inflasi, serta mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan komitmen bank sentral untuk terus menjaga stabilitas rupiah, antara lain melalui intervensi di pasar valuta asing dan pengelolaan cadangan devisa secara optimal.

“Bank Indonesia akan terus berada di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamental ekonomi,” ujar Perry.

Kewenangan Nilai Tukar di Tangan BI

Pengelolaan nilai tukar rupiah sepenuhnya menjadi kewenangan Bank Indonesia, sesuai amanat Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia.

Sementara itu, Kementerian Keuangan berfokus pada kebijakan fiskal dan pengelolaan anggaran negara.

Meski demikian, koordinasi antara otoritas moneter dan fiskal terus berjalan guna menjaga stabilitas ekonomi secara menyeluruh.

Pergerakan Rupiah Berbasis Fundamental

Penguatan rupiah ke level Rp16.903 per dolar AS mencerminkan kepercayaan pasar terhadap kebijakan Bank Indonesia.

Pergerakan nilai tukar rupiah dipengaruhi oleh faktor makroekonomi, sentimen global, serta respons kebijakan moneter, bukan oleh isu non-ekonomi.

Dengan cadangan devisa yang memadai dan kebijakan stabilisasi yang berkelanjutan, rupiah dinilai memiliki daya tahan yang baik menghadapi tekanan global.

Optimisme Menatap Ke Depan

Penguatan rupiah menjadi indikasi bahwa stabilitas moneter Indonesia tetap terjaga. Kebijakan BI-Rate di level 4,75 persen dinilai tepat untuk menjaga keseimbangan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.

Dengan fondasi ekonomi yang kuat dan kebijakan yang konsisten, rupiah diharapkan tetap stabil dan mampu mendukung pertumbuhan ekonomi nasional ke depan.***