LENTERAMERAH – Hubungan antara ilmu ras, ideologi Nazi, dan Namibia bukan kebetulan sejarah. Awal abad ke-20, wilayah kolonial Jerman di Afrika Barat Daya menjadi ruang eksperimen awal bagi gagasan-gagasan rasial yang kelak berkembang menjadi ideologi pemusnahan di Eropa. Genosida Herero dan Nama bukan hanya operasi militer, tetapi juga proyek pengetahuan yang berkelindan dengan apa yang disebut sebagai ilmu ras modern.
Setelah kampanye militer 1904–1908, para penyintas Herero dan Nama yang ditahan di kamp-kamp konsentrasi menjadi objek penelitian medis dan antropologis. Di kamp seperti Shark Island, tubuh para tahanan diperlakukan sebagai bahan studi. Tengkorak dan bagian tubuh korban dikumpulkan, diawetkan, lalu dikirim ke Jerman untuk dianalisis di institusi akademik.
Salah satu tokoh kunci dalam jaringan ini adalah Eugen Fischer, antropolog Jerman yang melakukan penelitian rasial di Afrika. Fischer mempelajari apa yang ia sebut sebagai “percampuran ras” dengan mengamati keturunan korban genosida. Temuan-temuannya kemudian menjadi rujukan utama dalam pengembangan teori hierarki ras di Jerman.
Ilmu ras yang diuji di Namibia tidak berhenti di ruang akademik. Gagasan tentang kemurnian ras, inferioritas biologis, dan legitimasi kekerasan negara terhadap kelompok tertentu menyebar luas di Jerman pada dekade berikutnya. Ketika Partai Nazi naik ke tampuk kekuasaan, banyak konsep inti dalam kebijakan rasial mereka telah memiliki fondasi ilmiah semu yang dibangun sejak era kolonial.
Beberapa karya Fischer bahkan digunakan sebagai literatur wajib dalam pelatihan kader Nazi. Praktik klasifikasi manusia, pengukuran tengkorak, dan penilaian biologis yang dikembangkan dari pengalaman kolonial Afrika kemudian diterapkan secara sistematis di Eropa. Dalam konteks ini, Namibia berfungsi sebagai laboratorium awal sebelum ideologi tersebut diterapkan secara lebih luas.
Hubungan antara kolonialisme dan Nazi juga tampak pada kontinuitas personel dan institusi. Banyak ilmuwan dan administrator kolonial beralih peran dalam negara Jerman pasca-Perang Dunia I. Kekalahan militer tidak menghapus jaringan pengetahuan yang telah terbentuk. Sebaliknya, pengalaman kolonial dijadikan referensi dalam membangun kebijakan rasial domestik.
Hingga kini, jejak sejarah ini masih memicu perdebatan. Proses pemulangan tengkorak dan sisa-sisa jenazah korban dari museum dan universitas di Jerman ke Namibia berlangsung bertahap dan penuh ketegangan emosional. Setiap repatriasi membuka kembali luka lama tentang bagaimana ilmu pengetahuan pernah digunakan untuk membenarkan pemusnahan manusia.
Namibia dalam konteks ini bukan sekadar korban kolonialisme, tetapi titik awal dari rantai ideologis yang menghubungkan Afrika kolonial dengan tragedi Eropa abad ke-20. Ilmu ras yang lahir dari kekerasan kolonial meninggalkan warisan gelap yang dampaknya melampaui batas geografis dan generasi. ***


