LENTERAMERAH – Aktor dan komedian Amerika Serikat, Rob Schneider, kembali mencuri perhatian publik melalui pidatonya dalam ajang Turning Point USA 2025 Student Action Summit yang berlangsung 11–13 Juli di AS.
Dalam acara tersebut, Schneider menyampaikan kritik tajam terhadap fanatisme politik dan seruan untuk mempertahankan kebebasan berpendapat.
Dalam salah satu bagian pidatonya, Schneider menyinggung fenomena “Trump Derangement Syndrome” (TDS), istilah populer yang menggambarkan reaksi ekstrem terhadap Donald Trump.
Ia menekankan bahwa sikap membenarkan semua keputusan Trump tanpa kritik adalah bentuk lain dari TDS itu sendiri. “Kalau segala keputusan Trump dianggap selalu benar dan harus dijalankan tanpa kritik, bukankah itu juga TDS versi lain?” ujarnya.
Schneider juga menyerukan agar seluruh dokumen terkait Jeffrey Epstein dibuka ke publik, apapun konsekuensinya.
“Ini Amerika. Kita akan menghadapi apa pun yang terjadi,” katanya, sembari mempertanyakan kenapa masyarakat terlalu fokus pada Epstein sementara 300.000 anak korban perdagangan manusia di AS belum ditemukan.
Ia turut mempertanyakan kebijakan luar negeri Amerika, termasuk pengiriman senjata ke Ukraina. Sementara itu, ia menyatakan dukungannya terhadap Israel, tetapi menggarisbawahi bahwa organisasi seperti AIPAC seharusnya mendaftar sebagai pelobi asing.
Ini selama Israel belum menjadi negara bagian ke-51 AS. Baginya, mendukung Israel tidak harus berarti membungkam kritik terhadap pengaruh politik luar negeri di dalam negeri.
Menutup pidatonya, Schneider menyampaikan pesan tentang pentingnya mempertahankan ruang untuk perbedaan pendapat. “Protes, tidak setuju, bersuara—tanpa takut sensor atau balasan dari pemerintah—adalah esensi dari kebebasan kita,” katanya.
Schneider sebelumnya diketahui mendukung Robert F. Kennedy Jr. pada tahun 2023 sebelum beralih mendukung Trump setelah kampanye Kennedy ditangguhkan. Ia dikenal sebagai figur publik yang aktif dalam berbagai isu konservatif. ***