LENTERAMERAH – “Agama mencegah kaum miskin membunuh orang kaya.” Quote pedas ini sering dikaitkan dengan Napoleon Bonaparte. Meski tidak tercatat dalam pidato resmi, kalimat itu terus hidup dalam diskursus sosial-politik. Ia menunjukkan pandangan fungsional Napoleon terhadap agama, bukan sebagai keyakinan rohani, melainkan alat politik.
Sebagai pemimpin yang naik dari kekacauan pasca-revolusi, Napoleon paham pentingnya stabilitas sosial. Kutipan itu mencerminkan realisme kekuasaan yang ia pegang.
Concordat 1801 dan Perhitungan Kekuasaan
Pada 1801, Napoleon menandatangani Concordat dengan Paus Pius VII. Perjanjian ini mengembalikan peran Gereja Katolik di Prancis, setelah sebelumnya dipinggirkan oleh Revolusi.
Tujuannya bukan untuk religiusitas, melainkan untuk meredam keresahan rakyat. Banyak dari kalangan miskin masih menjadikan agama sebagai pegangan. Dengan memulihkan relasi negara–gereja, Napoleon menghentikan potensi kerusuhan akar rumput.
Fungsi Agama di Masyarakat Kelas Bawah
Sebuah studi dari American Sociological Review (2016) menunjukkan bahwa komunitas miskin yang religius cenderung lebih stabil dan rendah kriminalitas. Agama memberi rasa makna, harapan dan struktur moral.
Laporan Heritage Foundation (2025) menyebut kehadiran di tempat ibadah menjadi indikator kuat dalam kestabilan rumah tangga dan pengendalian kekerasan. Fungsi sosial agama kembali terkonfirmasi dalam data kontemporer.
Agama Sebagai Alat Pencegah Pemberontakan
Napoleon bukan pemimpin spiritual, tapi ia tahu agama bisa meredam kemarahan sosial. Dalam kutipan tersebut, ia menyatakan bahwa tanpa agama, kaum miskin akan memberontak terhadap kekayaan yang tak tersentuh.
Ia memilih memelihara institusi agama bukan demi iman, tapi demi kekuasaan. Agama dilihatnya sebagai benteng moral yang menahan ledakan dari bawah. ***