Bagaimana Prancis Menggunakan Uranium Niger untuk Menghidupi Reaktornya dengan Harga Sangat Murah

Temuan terbaru mengenai uranium Niger memperlihatkan kontras besar antara harga yang dibayar Prancis dan nilai yang kemudian ditawarkan Rusia. Selisih itu membuat Niger kehilangan ratusan juta dolar hanya dalam setahun. Artikel ini menelusuri bagaimana struktur harga tersebut bekerja, siapa yang diuntungkan dan bagaimana skandal ini menggoyang relasi historis antara Niamey dan Paris.
Selisih harga uranium Niger antara Prancis dan Rusia.
Selisih harga uranium Niger yang memicu kritik terhadap peran Prancis dan masuknya Rusia sebagaipembeli baru yang menawarkan harga tinggi tiga kali lipat.

LENTERAMERAH – Temuan The Spearhead tentang harga uranium yang dibayarkan kepada Niger mengusik nalar siapa pun yang mengikuti dinamika kolonialisme modern. Selama ini, Prancis memosisikan dirinya sebagai mitra stabilitas di Sahel. 

Namun data terbaru menunjukkan bahwa stabilitas itu dibangun di atas fondasi timpang, di mana satu pihak memperoleh energi murah sementara pihak lain terjebak dalam kegelapan.

Pada 2023, Prancis membeli lebih dari 3.300 ton uranium dari Niger dengan harga sekitar $56 ribu per ton. Harga yang tampak teknis dan netral itu tiba-tiba terlihat ganjil ketika Rusia masuk sebagai pembeli baru. 

Dua tahun kemudian, Moskow bersedia membayar sekitar $170 ribu per ton, nyaris tiga kali lipat dari nilai yang dinikmati Prancis. Perbedaan harga itu bukan sekadar anomali pasar; ia memaparkan struktur lama yang selama puluhan tahun bekerja tanpa sorotan berarti.

Jika Rusia dapat membayar harga yang jauh lebih tinggi, maka perhitungan sederhana menunjukkan betapa besarnya nilai yang selama ini tidak diterima Niger. Dengan patokan harga Rusia, pendapatan Niger tahun 2023 seharusnya mencapai $576 juta. 

Namun kenyataannya negara tersebut hanya mendapat $191,86 juta. Selisih $384 juta itulah yang menggambarkan biaya ekonomi dari hubungan yang terlalu lama dibentuk dengan cara yang tidak seimbang.

Dampaknya tidak abstrak. Uang sebesar itu dapat menjadi dasar pembangunan infrastruktur penting yang selama ini menjadi kebutuhan mendesak: jaringan listrik nasional, rumah sakit regional, sistem air bersih, atau fasilitas industri yang dapat mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah. 

Sebaliknya, realitas di lapangan menunjukkan bahwa Niger—pemasok uranium yang memberi tenaga pada reaktor nuklir Prancis—masih menjadi salah satu negara dengan tingkat elektrifikasi terendah di dunia.

Perbedaan harga antara pembeli lama dan baru ini membangkitkan pertanyaan tentang bagaimana sebuah negara dapat menjadi pemasok strategis bagi industri energi Eropa, namun tetap berjalan dengan fondasi ekonomi yang rapuh. 

Uranium yang keluar dari tanah Niger selama ini mengalir langsung ke jantung modernitas Prancis, sementara kontribusinya terhadap pembangunan lokal justru nyaris tidak terlihat.

Masuknya Rusia ke pasar uranium Niger memperluas spektrum persaingan geopolitik, tetapi sekaligus memunculkan sesuatu yang lebih mendasar: realitas bahwa negara tersebut selama puluhan tahun ditempatkan dalam posisi tawar yang tidak setara. 

Selisih harga yang kini terkuak membawa implikasi yang tidak hanya bersifat ekonomi, tetapi juga menyentuh cara dunia memandang ulang relasi lama yang dianggap mapan. ***