Lillian Gilbreth, Janda dengan Dua Belas Anak yang Mengubah Cara Dunia Memasak

Setelah ditinggal suaminya pada 1924, Lillian Gilbreth menghadapi diskriminasi, utang, dan 12 anak—lalu mengubah dunia rumah tangga.
Lillian Gilbreth insinyur perempuan yang menciptakan konsep dapur modern.
Lillian Gilbreth dikenal sebagai insinyur dan psikolog industri yang merevolusi desain dapur modern.

LENTERAMERAH – Ketika suaminya meninggal mendadak pada 1924, Lillian Gilbreth ditinggalkan dengan dua belas anak, utang yang menumpuk, dan dunia profesional yang tiba-tiba menutup pintu. Perusahaan-perusahaan membatalkan kontrak kerja yang sebelumnya mereka jalani bersama, semata-mata karena kini yang tersisa hanyalah seorang perempuan.

Sebelum itu, hidup Lillian tampak mapan. Bersama suaminya, Frank Gilbreth, ia dikenal sebagai pelopor dalam bidang efisiensi kerja dan manajemen waktu. Mereka adalah pasangan insinyur industri yang karyanya dipelajari dan diterapkan di berbagai pabrik besar. Rumah tangga mereka yang ramai bahkan menjadi ruang uji langsung bagi prinsip-prinsip penghematan waktu yang mereka kembangkan.

Semua itu runtuh ketika Frank meninggal akibat serangan jantung pada usia 55 tahun. Dalam sekejap, Lillian menjadi janda berusia 46 tahun dengan dua belas anak berusia antara dua hingga sembilan belas tahun. Kontrak-kontrak kerja yang terikat pada nama “Gilbreth and Company” dibatalkan satu per satu. Pesan yang ia terima berulang kali sama: perusahaan menyewa “Gilbreth”, bukan “Mrs. Gilbreth”.

Pada era itu, perempuan tidak dianggap layak memimpin perusahaan teknik, apalagi menjadi konsultan bagi korporasi besar. Namun Lillian Gilbreth bukan perempuan biasa. Ia memiliki gelar doktor psikologi dari Brown University—perempuan pertama yang meraihnya. Ia memahami perilaku manusia, ergonomi, dan efisiensi kerja secara ilmiah, dan kini ia memiliki alasan yang sangat konkret untuk terus bekerja: keluarganya.

Ketika dunia korporasi menolaknya, Lillian mengalihkan keahliannya ke ruang yang selama ini diremehkan dunia teknik: rumah tangga. Ia memandang pekerjaan domestik bukan sebagai rutinitas sepele, melainkan sebagai sistem kompleks yang bisa dianalisis, diukur, dan dioptimalkan dengan prinsip ilmiah yang sama seperti pabrik.

Dapur Amerika pada 1920-an adalah ruang yang melelahkan. Kompor, wastafel, dan kotak es ditempatkan berjauhan tanpa perhitungan. Perempuan berjalan bolak-balik tanpa henti hanya untuk menyiapkan satu hidangan. Lillian mulai mencatat gerakannya sendiri, menghitung waktu dan jarak, lalu menyusun ulang ruang dapur berdasarkan efisiensi.

Dari analisis inilah lahir konsep “segitiga kerja dapur”, penataan kompor, wastafel, dan kulkas agar membentuk jarak paling efisien. Ia menghitung tinggi meja yang ideal untuk mengurangi beban tubuh, merancang penyimpanan agar barang sering dipakai mudah dijangkau, serta menciptakan rak di pintu kulkas, tempat sampah berpedal, dan standar tinggi sakelar lampu.

Inovasi-inovasi itu kini terasa biasa. Pada masanya, semua itu adalah terobosan.

Lillian mempresentasikan gagasannya kepada produsen peralatan rumah tangga, menulis artikel, memberi ceramah, dan berbicara di radio. Perlahan, konsep dapur modern terbentuk—berakar pada pendekatan ilmiah seorang perempuan yang sebelumnya disingkirkan dari dunia teknik.

Penolakan tetap datang. Banyak insinyur laki-laki meremehkan pekerjaannya sebagai urusan remeh. Dalam konferensi, ia kerap diminta menyajikan kopi, bukan menyampaikan gagasan. Namun Lillian terus bekerja, mengajar di Purdue University sebagai salah satu profesor teknik perempuan pertama, sekaligus membesarkan dua belas anaknya melewati masa Depresi Besar.

Ketika Perang Dunia II pecah dan jutaan perempuan masuk ke pabrik, keahlian Lillian kembali dibutuhkan. Pemerintah Amerika Serikat memintanya merancang ruang kerja yang efisien. Saat para veteran penyandang disabilitas kembali ke rumah, ia menjadi pelopor desain aksesibel—menciptakan dapur dan ruang kerja yang memungkinkan orang bekerja mandiri meski dengan keterbatasan fisik.

Perusahaan-perusahaan yang dulu menolaknya kini justru mencari bantuannya.

Pada 1965, Lillian Gilbreth terpilih sebagai perempuan pertama anggota National Academy of Engineering. Ia menjadi penasihat bagi lima presiden Amerika Serikat, menerima berbagai gelar kehormatan, dan dikenang sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah teknik dan desain manusiawi. ***