LENTERAMERAH – Arab Saudi menghadapi tekanan fiskal yang semakin nyata seiring harga minyak bergerak di bawah kebutuhan anggaran negara. Ketergantungan tinggi pada pendapatan energi membuat setiap penurunan harga langsung berdampak pada belanja publik. Situasi ini menjelaskan mengapa isu defisit Saudi kembali menjadi perhatian utama.
Dalam beberapa tahun terakhir, kebutuhan anggaran Arab Saudi menuntut harga minyak yang jauh lebih tinggi dari level pasar. Ketika harga berada di kisaran menengah, pemasukan negara tidak cukup untuk menutup pengeluaran rutin. Selisih ini memicu defisit yang harus ditutup dengan langkah darurat.
Defisit Saudi tidak muncul karena satu faktor tunggal. Struktur belanja negara yang besar, termasuk subsidi dan proyek infrastruktur, menuntut aliran pendapatan stabil. Ketika harga minyak melemah, ruang fiskal menyempit dengan cepat.
Pemerintah Saudi merespons tekanan ini dengan meningkatkan pembiayaan melalui utang. Penerbitan obligasi menjadi alat utama untuk menutup kekurangan kas jangka pendek. Namun strategi ini meningkatkan beban pembayaran di masa depan.
Selain utang, Saudi juga mulai mengandalkan penjualan aset negara. Sebagian kepemilikan di perusahaan energi dilepas untuk menambah pemasukan. Langkah ini membantu menambal defisit, tetapi mengurangi kontrol negara atas sumber pendapatan strategis.
Tekanan fiskal juga tercermin pada penyesuaian belanja. Beberapa proyek ambisius ditunda atau diperkecil skalanya. Prioritas anggaran bergeser dari ekspansi ke penghematan.
Defisit Saudi mempersempit pilihan kebijakan ekonomi. Pemerintah harus menyeimbangkan kebutuhan menjaga stabilitas sosial dengan keterbatasan anggaran. Pemangkasan subsidi berisiko memicu tekanan domestik jika dilakukan terlalu agresif.
Kondisi pasar minyak global membuat pemulihan tidak mudah. Permintaan tumbuh terbatas, sementara pasokan baru terus masuk. Dalam situasi ini, Arab Saudi tidak memiliki kendali penuh atas harga.
Upaya menjaga harga dengan menyesuaikan produksi juga memiliki konsekuensi. Pengurangan produksi berisiko kehilangan pangsa pasar kepada produsen lain. Sebaliknya, peningkatan produksi justru menekan harga lebih jauh.
Defisit Saudi pada akhirnya mencerminkan kerentanan model ekonomi yang sangat bergantung pada minyak. Selama pendapatan negara bergantung pada fluktuasi pasar energi, stabilitas fiskal akan tetap rapuh. Tekanan ini mendorong Riyadh bersikap lebih hati-hati dalam menghadapi risiko eksternal. ***




