LENTERAMERAH – Namibia dikenal sebagai negara dengan kepadatan penduduk terendah di Afrika. Dengan wilayah sekitar 825 ribu kilometer persegi dan populasi sekitar 2,6 juta jiwa, rata-rata hanya tiga orang yang menghuni setiap kilometer persegi wilayah negara ini.
Angka tersebut menempatkan Namibia jauh di bawah negara-negara Afrika lain, bahkan di kawasan selatan yang relatif jarang penduduk.
Bentang alam Namibia memang didominasi wilayah kering. Gurun Namib membentang di pesisir Atlantik, sementara Gurun Kalahari menguasai bagian timur. Kondisi geografis ini kerap dijadikan penjelasan utama mengapa Namibia jarang penduduk. Namun, penjelasan tersebut tidak sepenuhnya cukup untuk memahami rendahnya kepadatan penduduk negara ini.
Ibu kota Windhoek menjadi gambaran kontras tersebut. Jalan-jalan lebar, bangunan modern, dan ruang kota yang lapang berdiri tanpa hiruk-pikuk khas ibu kota Afrika lain. Aktivitas ekonomi tetap berjalan, tetapi ruang kosong menjadi bagian tak terpisahkan dari lanskap perkotaan Namibia.
Rendahnya kepadatan penduduk Namibia juga berkaitan erat dengan sejarah kolonial yang brutal. Pada awal abad ke-20, wilayah yang saat itu dikenal sebagai German South West Africa mengalami salah satu episode kekerasan paling mematikan dalam sejarah kolonial modern. Populasi suku Herero dan Nama menyusut drastis akibat kebijakan militer Kekaisaran Jerman yang menghancurkan komunitas-komunitas lokal secara sistematis.
Sejarawan mencatat bahwa dalam rentang waktu singkat, hingga 70 persen populasi Herero dan sekitar separuh populasi Nama lenyap. Selain pembunuhan langsung, pengusiran massal ke wilayah gurun tanpa akses air dan pangan mempercepat kehancuran demografis tersebut. Banyak wilayah subur yang sebelumnya dihuni komunitas lokal kemudian dikosongkan.
Dampaknya terasa hingga kini. Struktur kepemilikan lahan di Namibia masih sangat timpang, sementara sebagian besar penduduk pribumi hidup di wilayah yang secara historis merupakan hasil peminggiran kolonial. Kepadatan penduduk yang rendah tidak hanya mencerminkan kondisi alam, tetapi juga jejak panjang kekerasan dan pengusiran yang membentuk ulang ruang hidup Namibia.
Dalam diskusi internasional, Namibia kerap dipotret sebagai negara dengan “ruang kosong” yang luas. Namun di balik statistik kepadatan penduduk, terdapat sejarah kehilangan yang menjelaskan mengapa ruang-ruang tersebut tetap sunyi hingga hari ini. ***



