LENTERAMERAH – Viralitas lagu Mas Bahlil Ganteng (MBG) tidak hanya menjadi fenomena di media sosial, tetapi juga memengaruhi percakapan publik mengenai Ketua Umum Partai Golkar sekaligus Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia.
Hasil analisis percakapan media sosial menunjukkan lagu tersebut mendorong lonjakan eksposur Bahlil sekaligus meningkatkan visibilitas Partai Golkar di ruang digital sepanjang akhir Mei hingga pertengahan Juni 2026.
Sebelum lagu MBG menjadi perbincangan luas, percakapan mengenai Bahlil pada periode 1–23 Mei 2026 tercatat sebanyak 35.639 percakapan di berbagai platform media sosial. Saat itu, pembahasan publik masih didominasi isu-isu kebijakan energi, mulai dari rencana konversi LPG ke CNG, legalisasi sumur minyak rakyat, hingga pengembangan bahan bakar B50.
Situasi berubah setelah lagu MBG mulai viral pada periode 24 Mei hingga 15 Juni 2026. Dalam rentang waktu tersebut, volume percakapan melonjak menjadi 77.012 atau meningkat sekitar 116 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Peningkatan mulai terlihat sejak 26 Mei dan semakin menguat ketika lagu MBG diputar dalam Musyawarah Besar (Mubes) Kosgoro pada 6 Juni 2026. Sementara itu, puncak percakapan mengenai Bahlil terjadi pada 12 Juni 2026, bertepatan dengan responsnya terkait kenaikan harga Pertamax.
Jokowi Turut Memperluas Jangkauan
Momentum lain yang dinilai ikut memperluas penyebaran lagu MBG terjadi pada 30 Mei 2026 saat Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, mengunggah konten mengenai lagu tersebut.
Dalam unggahannya, Jokowi mengatakan lagu MBG telah viral bahkan hingga lingkungan rumahnya. Ia juga menyebut lagu tersebut sebagai bentuk kreativitas anak muda Indonesia.
Analisis tersebut menilai keterlibatan Jokowi memberikan legitimasi simbolik terhadap fenomena MBG. Meski demikian, laporan menegaskan bahwa hal tersebut tidak dapat dimaknai sebagai bentuk dukungan politik secara eksplisit kepada Bahlil.
Eksposur Digital Melonjak
Selain meningkatkan jumlah percakapan, viralitas lagu MBG juga memperluas jangkauan eksposur di media sosial.
Sebelum lagu tersebut viral, percakapan mengenai Bahlil diperkirakan menjangkau sekitar 128,9 juta akun. Setelah MBG menjadi fenomena digital, angka tersebut meningkat menjadi sekitar 450,7 juta akun atau sekitar 3,5 kali lipat.
Efek serupa juga dirasakan Partai Golkar. Eksposur partai meningkat dari sekitar 38,4 juta akun menjadi 146,5 juta akun atau hampir empat kali lipat dibandingkan sebelumnya.
Sentimen Positif Tetap Mendominasi
Di balik meningkatnya eksposur, laporan juga mencatat perubahan komposisi sentimen publik terhadap Bahlil. Sentimen positif turun dari 75,1 persen menjadi 69,8 persen, sementara sentimen negatif meningkat dari 19,1 persen menjadi 26,2 persen. Meski demikian, laporan menyebut perubahan tersebut masih berada pada level yang dinilai wajar.
Mayoritas kritik masih berkaitan dengan isu kebijakan, seperti kenaikan harga Pertamax, polemik disertasi, maupun berbagai regulasi di sektor energi. Kritik tersebut dinilai belum bergeser menjadi serangan terhadap karakter pribadi ataupun integritas Bahlil.
“Penurunan masih dalam batas wajar dan terukur. Hal ini karena penurunan dipicu oleh isu kebijakan, bukan krisis citra personal,” ujar Direktur Eksekutif Citra Institute Yusak Farchan saat Press Release dan Diskusi Publik Bedah Hasil Riset Digital Analysist & Public Sentiment Report “Efek Viral Lagu MBG Terhadap Figur Bahlil Lahadalia dan Partai Golkar” di Cimanggis, Depok, Kamis (2/7/2026).
Laporan juga mencatat munculnya kecenderungan baru dalam percakapan publik di Facebook dan Instagram. Sebagian warganet mulai menghubungkan viralitas lagu MBG dengan isu harga BBM, termasuk melalui komentar seperti, “Pertamax naik, kok masih MBG.”
Golkar Ikut Mendapat Dampak Positif
Peningkatan popularitas Bahlil turut berdampak pada percakapan mengenai Partai Golkar. Jumlah percakapan tentang Golkar meningkat dari 7.237 menjadi 14.041 atau naik sekitar 94 persen. Pada saat yang sama, sentimen positif terhadap partai melonjak dari 56,9 persen menjadi 77,7 persen, sedangkan sentimen negatif turun dari 32,6 persen menjadi 15,5 persen.
Menurut laporan tersebut, peningkatan itu menunjukkan bahwa popularitas personal Bahlil ikut berkontribusi terhadap persepsi positif terhadap Golkar di media sosial. Namun, laporan juga mengingatkan bahwa peningkatan tersebut belum tentu mencerminkan penguatan citra institusi partai secara mandiri.
Tantangan Menuju Pemilu 2029
Dalam analisis strategisnya, laporan menyebut viralitas lagu MBG telah menggeser positioning Bahlil dari figur teknokrat di sektor energi menjadi figur nasional dengan daya tarik yang lebih luas.
Meski demikian, popularitas digital dinilai baru menjadi modal awal. Tantangan berikutnya adalah mengonversi popularitas tersebut menjadi elektabilitas, loyalitas pemilih, serta jaringan politik yang berkelanjutan menjelang Pemilu 2029.
Laporan juga mengidentifikasi sejumlah risiko yang perlu diantisipasi, seperti potensi kejenuhan publik apabila lagu MBG terlalu sering digunakan sebagai materi komunikasi politik, munculnya kembali isu harga BBM maupun polemik akademik sebagai bahan serangan politik, hingga meningkatnya ketergantungan Golkar terhadap satu figur.
Selain itu, laporan menyarankan agar hubungan simbolik dengan Jokowi dikelola secara hati-hati. Alih-alih membangun narasi bahwa Jokowi mendukung Bahlil menuju Pemilu 2029, apresiasi Jokowi sebaiknya diposisikan sebagai bentuk dukungan terhadap kreativitas anak muda, bukan sebagai endorsement politik.
Sebagai langkah lanjutan, laporan merekomendasikan agar komunikasi politik mulai bergeser dari sekadar meningkatkan popularitas menuju penguatan citra kepemimpinan, memperluas eksposur kader Golkar lainnya, membangun komunitas digital, serta mengangkat perjalanan hidup Bahlil sebagai simbol mobilitas sosial. ***




