LENTERAMERAH – Perdebatan mengenai Telkom kembali mengemuka setelah laporan Cloudflare ramai dibahas di media sosial X. Sejumlah warganet mengaitkan tingginya biaya konektivitas di Indonesia dengan tantangan yang dihadapi ekonomi digital nasional dalam menarik investasi teknologi.
Diskusi tersebut bermula dari unggahan yang mengutip blog resmi Cloudflare. Dalam tulisannya, perusahaan itu menyebut biaya konektivitas menuju Indonesia mencapai 43 kali lebih mahal dibandingkan Amerika Utara maupun Eropa.
Cloudflare singgung struktur pasar telekomunikasi
Cloudflare menjelaskan tingginya biaya tersebut tidak hanya dipengaruhi kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan. Perusahaan juga menilai struktur pasar telekomunikasi ikut berkontribusi terhadap mahalnya biaya bandwidth dan interkoneksi.
Dalam blognya, Cloudflare menyebut tiga operator terbesar menguasai sekitar 80 persen pendapatan industri telekomunikasi Indonesia. Dari jumlah tersebut, Telkom disebut memiliki pangsa sekitar 60 persen.
Menurut Cloudflare, kondisi itu membuat biaya peering dan interkoneksi di Indonesia masih relatif tinggi dibandingkan banyak negara lain.
Ekonomi digital membutuhkan biaya konektivitas yang efisien
Analis geopolitik Menteng Kleb, Fauzan Luthsa, mengatakan biaya konektivitas kini menjadi salah satu indikator utama yang dipertimbangkan investor ketika memilih lokasi pembangunan pusat data maupun layanan komputasi awan.
“Kalau biaya bandwidth jauh lebih mahal dibandingkan negara lain, maka yang terdampak bukan hanya industri telekomunikasi. Ekonomi digital Indonesia juga akan menghadapi tantangan untuk bersaing menarik investasi baru,” ujarnya.
Menurut Fauzan, kritik Cloudflare terhadap Telkom perlu dipahami sebagai masukan dari perusahaan global yang beroperasi di banyak negara.
“Cloudflare secara terbuka mempertanyakan struktur pasar telekomunikasi Indonesia. Pemerintah perlu melihat kritik itu sebagai bahan evaluasi untuk memperkuat daya saing ekonomi digital, bukan sekadar sebagai kritik terhadap satu perusahaan,” katanya.
Telkom dinilai memegang peran penting
Fauzan menilai posisi Telkom sebagai perusahaan telekomunikasi terbesar membuat kebijakan dan strategi bisnisnya memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan ekosistem digital nasional.
“Indonesia sedang berbicara mengenai pusat data, kecerdasan buatan, cloud computing, hingga transformasi digital. Semua itu bergantung pada konektivitas yang efisien. Kalau biaya internet masih jauh lebih tinggi dibandingkan negara lain, investor tentu akan menghitung ulang keputusan bisnisnya,” ujarnya.
Ia menambahkan, Indonesia memiliki modal geografis yang sangat strategis karena berada di jalur utama kabel bawah laut dunia.
“Keunggulan geografis seharusnya menjadi nilai tambah bagi ekonomi digital Indonesia. Namun apabila biaya konektivitas tetap tidak kompetitif, keunggulan tersebut tidak akan memberikan manfaat yang maksimal,” kata Fauzan. ***




