LENTERAMERAH – Cloudflare Telkom menjadi topik perbincangan di media sosial X setelah sejumlah akun mengunggah kembali temuan Cloudflare mengenai mahalnya biaya konektivitas internet menuju Indonesia. Diskusi itu turut dikaitkan dengan peta terbaru kabel bawah laut milik Google dan Meta yang ramai dibahas warganet.
Salah satu unggahan mengutip blog resmi Cloudflare yang menyebut biaya konektivitas menuju Indonesia mencapai 43 kali lebih mahal dibandingkan Amerika Utara maupun Eropa. Angka tersebut berasal dari pengalaman perusahaan saat memperluas jaringan dan meningkatkan performa layanannya di Indonesia.
Cloudflare singgung dominasi Telkom
Dalam blog resminya, Cloudflare menyebut tingginya biaya tersebut tidak hanya dipengaruhi kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan.
Perusahaan juga menyoroti struktur pasar telekomunikasi nasional yang dinilai masih sangat terkonsentrasi. Cloudflare menyebut tiga penyedia layanan internet terbesar menguasai sekitar 80 persen pendapatan industri. Dari jumlah itu, Telkom disebut memiliki pangsa sekitar 60 persen.
Menurut Cloudflare, kondisi tersebut berpengaruh terhadap mahalnya biaya peering dan interkoneksi, sehingga harga bandwidth di Indonesia jauh lebih tinggi dibandingkan sejumlah negara lain di Asia maupun kawasan Barat.
Cloudflare juga membandingkan biaya koneksi 100 Gbps pada jalur Singapura–Jakarta yang disebut berkali-kali lipat lebih mahal dibandingkan rute dengan jarak serupa di Amerika Utara, Eropa, maupun Hong Kong–Taiwan.
Diskusi di media sosial meluas
Unggahan yang beredar di X tidak hanya membahas biaya konektivitas. Sejumlah pengguna juga mengaitkannya dengan peta proyek kabel bawah laut terbaru milik Google dan Meta yang memperlihatkan sebagian rute tidak melewati sejumlah selat strategis di Indonesia.
Narasi tersebut kemudian memunculkan kritik terhadap iklim investasi infrastruktur digital di Indonesia, termasuk terhadap struktur industri telekomunikasi yang dinilai kurang kompetitif.
Fauzan Luthsa: Ini bukan sekadar persoalan bisnis
Analis geopolitik Menteng KLEB, Fauzan Luthsa, menilai temuan Cloudflare memiliki implikasi yang jauh melampaui industri telekomunikasi.
“Kalau perusahaan global seperti Cloudflare menyatakan biaya konektivitas Indonesia 43 kali lebih mahal, maka ini sudah menjadi persoalan daya saing nasional. Infrastruktur digital sekarang adalah instrumen geopolitik sekaligus fondasi ekonomi digital,” ujarnya.
Fauzan mengatakan kritik Cloudflare terhadap dominasi Telkom seharusnya menjadi bahan evaluasi bagi regulator.
“Cloudflare secara terbuka mengaitkan struktur pasar telekomunikasi Indonesia dengan mahalnya interkoneksi. Jika kondisi tersebut terus dipertahankan, Indonesia berpotensi kehilangan momentum untuk menarik lebih banyak investasi pusat data, layanan cloud, hingga infrastruktur digital strategis,” katanya.
Menurut Cloudflare, tantangan konektivitas Indonesia memang dipengaruhi faktor geografis dan ketergantungan terhadap kabel bawah laut. Namun perusahaan menegaskan dinamika pasar telekomunikasi juga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan biaya bandwidth di Indonesia tetap jauh lebih tinggi dibandingkan banyak negara lain. ***



