LENTERAMERAH — Ketika Karl Marx menerbitkan Das Kapital pada 1867, dunia produksi yang menjadi objek analisisnya ditandai pabrik, mesin dan tenaga kerja industri. Pada 2026, mesin produksi semakin banyak berbentuk perangkat lunak, pusat data, semikonduktor dan sistem kecerdasan buatan, tetapi hubungan antara teknologi, tenaga kerja dan kapital kembali menjadi persoalan ekonomi.
Perubahan teknologi membuat produktivitas dapat meningkat tanpa selalu membutuhkan penambahan tenaga kerja dalam proporsi yang sama. AI bahkan memperluas otomatisasi ke pekerjaan yang sebelumnya dianggap membutuhkan kemampuan kognitif manusia.
Penelitian International Monetary Fund pada 2025 menunjukkan dampak AI terhadap ketimpangan memiliki beberapa jalur sekaligus. AI dapat menekan sebagian ketimpangan upah melalui penggantian pekerjaan berpendapatan tinggi, tetapi pekerja berpendapatan tinggi juga lebih mungkin memperoleh keuntungan dari kenaikan produktivitas dan imbal hasil aset. Dalam model IMF, efek terhadap ketimpangan kekayaan dapat menjadi lebih besar ketika perusahaan memilih memperluas penggunaan AI.
Das Kapital dan AI
Persoalannya tidak berhenti pada hubungan pekerja dan perusahaan. AI juga membutuhkan kapital dalam bentuk pusat data, komputasi, semikonduktor dan investasi infrastruktur. Artinya, siapa yang memiliki dan mengendalikan infrastruktur tersebut ikut menentukan siapa yang dapat menangkap nilai ekonomi dari teknologi.
UN Trade and Development mencatat bahwa konsentrasi pasar digital semakin tinggi. Lima perusahaan digital multinasional terbesar menguasai 48 persen penjualan global pada 2025, meningkat dari 21 persen pada 2017. Tujuh dari sepuluh perusahaan paling bernilai di dunia juga merupakan perusahaan digital.
Perkembangan terbaru di Asia memperlihatkan persoalan lain. Makalah IMF 2026 memperkirakan negara yang lebih siap secara struktural dapat mengadopsi AI lebih cepat dan memperoleh manfaat pertumbuhan lebih awal, sementara negara berkembang menghadapi hambatan adopsi dan biaya modal yang lebih tinggi. Di dalam negara, pergeseran pendapatan ke kapital juga berpotensi memperlebar kesenjangan antara pemilik aset dan pekerja yang terutama mengandalkan pendapatan tenaga kerja.
Perkembangan tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan seluruh teori Marx. Struktur ekonomi 2026 berbeda jauh dari kapitalisme industri yang dianalisis dalam Das Kapital.
Namun pertanyaan dasarnya tetap dapat digunakan untuk membaca perubahan tersebut. Ketika teknologi meningkatkan produktivitas, siapa yang menguasai teknologi, siapa yang memiliki kapital yang membiayainya, bagaimana posisi tenaga kerja berubah dan siapa yang memperoleh bagian terbesar dari hasil peningkatan produktivitas menjadi persoalan yang kembali muncul dalam ekonomi AI. ***




