LENTERAMERAH — Presiden Rusia Vladimir Putin menyebut dunia sedang memasuki realitas yang sepenuhnya baru ketika berbicara dalam sesi pleno Pertemuan Tahunan ke-23 Valdai Discussion Club di Moskwa, 1 Oktober 2026. Dengan tema “Responsibility for the Future: Limits of the Possible, or Limitless Possibilities?”, Putin menempatkan perubahan tatanan internasional sebagai salah satu persoalan utama yang akan menentukan masa depan.
Menurut Putin, tanggung jawab terhadap masa depan bukan sekadar slogan. Ia harus diterjemahkan menjadi langkah-langkah praktis untuk mencegah umat manusia terdorong ke ambang kehancuran dan menghindari konsekuensi yang tidak dapat dipulihkan.
Persoalannya, menurut dia, dunia belum sepenuhnya memahami skala perubahan yang sedang berlangsung. Ancaman dan peluang muncul secara bersamaan dan tidak dapat dipisahkan, sementara perubahan tersebut menyentuh keseluruhan cara manusia menjalani kehidupan.
Putin juga memperkirakan konflik internasional akan tetap berlangsung dalam beberapa tahun mendatang, apa pun skenario yang berkembang. Ia mengaitkan kecenderungan tersebut dengan perubahan besar yang menciptakan peluang baru sekaligus mendorong ambisi dan keberanian mengambil risiko demi keuntungan yang dianggap besar.
Dalam kerangka itu, perubahan tersebut berlangsung bersamaan dengan pergeseran dunia dari hegemoni Barat menuju tatanan multipolar. Ia menyatakan bahwa dalam jangka panjang proses itu akan membawa dunia menuju sistem internasional yang lebih stabil, demokratis dan bebas.
Namun transisi tersebut tidak digambarkan sebagai proses tanpa gejolak. Negara, komunitas dan individu tetap akan menghadapi berbagai risiko selama perjalanan menuju tatanan multipolar tersebut. Pergeseran pusat kekuatan justru dapat menjadi sumber ketegangan ketika kepentingan lama bertemu dengan konfigurasi kekuatan baru.
Persoalan tata kelola internasional juga menjadi bagian dari pandangan tersebut. Putin mengakui Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai organisasi internasional yang paling representatif, tetapi menilai praktik pengelolaannya telah menyimpang dari prinsip kolektif dan demokratis yang menurutnya menjadi bagian dari rancangan awal PBB.
Ia secara khusus mengkritik pengaruh kelompok negara-negara Barat yang dianggap tidak proporsional dibandingkan bobot demografisnya di dunia. Menurut Putin, kelompok tersebut merupakan minoritas global tetapi berupaya mempertahankan fungsi administratif dan pengaruh dalam sistem internasional.
Putin kemudian mengaitkan persoalan tersebut dengan prinsip “might makes right”, ketika kekuatan militer, politik dan ekonomi digunakan oleh sejumlah negara yang merasa memiliki keistimewaan, termasuk keunggulan moral. Ia mengingatkan bahwa pengalaman sejarah menunjukkan pendekatan semacam itu tidak membawa hasil yang baik.
Dalam pidatonya, ia menyebut Ukraina menjadi bagian penting dari penjelasan Rusia mengenai konflik yang sedang berlangsung. Putin menyatakan bahwa Rusia bukan pihak yang menginginkan atau memulai perang, melainkan berada dalam situasi yang menurutnya memaksa Rusia mempertahankan diri dengan kekuatan bersenjata.
Pernyataan tersebut disampaikan bersamaan dengan kritik terhadap nasionalisme agresif dan Russophobia di Ukraina serta terhadap tujuan yang menurut Putin diarahkan untuk mencapai kekalahan strategis Rusia. Bagian ini merupakan posisi politik Putin mengenai asal-usul dan karakter konflik, bukan fakta yang berdiri tanpa perdebatan.
Putin mengajak kembali pada gagasan tanggung jawab terhadap masa depan. Jika manusia ingin terus hidup, katanya, jalan yang diperlukan adalah hidup bersahabat dan bersama-sama mencari cara untuk mewujudkannya. ***




