LENTERAMERAH – Prediksi kemarau ekstrem pada 2026 yang disampaikan BMKG memicu kekhawatiran soal ketersediaan air bersih di Jakarta. Musim kering diperkirakan mulai April 2026, setelah fenomena La Niña berakhir pada Februari.
Meski demikian, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama PAM Jaya menyatakan telah menyiapkan langkah antisipasi untuk menjaga pasokan air bagi warga.
Saat ini, mayoritas kebutuhan air Jakarta masih bergantung pada pasokan dari Waduk Jatiluhur, yang menyuplai sekitar 92 persen air baku. Sisanya berasal dari sumber lokal seperti Kali Ciliwung, Sungai Pesanggrahan, dan Kanal Banjir Barat.
Ketergantungan terhadap sumber dari luar daerah menjadi tantangan. Namun, penurunan volume air waduk dinilai tidak serta-merta menyebabkan krisis, karena cadangan masih dapat dikelola.
Di sisi lain, Pemprov DKI terus menambah kapasitas produksi melalui pembangunan Instalasi Pengolahan Air (IPA) di sejumlah wilayah, seperti Buaran, Pejompongan, dan Cilandak. Kapasitas produksi saat ini mencapai lebih dari 22 ribu liter per detik.
Pemerintah daerah juga mengembangkan alternatif sumber air. Selain rencana pemanfaatan Bendungan Karian, opsi teknologi seperti desalinasi air laut dan pengolahan air limbah mulai dikaji.
Upaya antisipasi lain dilakukan melalui modifikasi cuaca untuk menjaga ketersediaan air di waduk saat musim kemarau.
Sejak pengelolaan air sepenuhnya berada di tangan PAM Jaya pada 2023, cakupan layanan air bersih meningkat dari sekitar 59 persen menjadi lebih dari 80 persen. Jumlah pelanggan kini mencapai lebih dari 1,18 juta sambungan rumah.
Pemprov DKI menargetkan cakupan layanan air minum mencapai 100 persen pada 2029. Untuk itu, kapasitas pasokan ditingkatkan hingga mendekati 33 ribu liter per detik.
Pengamat menilai, langkah penguatan infrastruktur dan diversifikasi sumber air menjadi kunci menghadapi potensi kemarau panjang. Namun, konsistensi kebijakan dan pengelolaan sumber daya tetap menjadi faktor penentu.***




