LENTERAMERAH – Diskusi mengenai transportasi di Tangerang Selatan tidak berhenti pada soal bus kota dan kendaraan pribadi. Dalam percakapan yang berkembang di media sosial X, sejumlah pengguna juga menyinggung bagaimana kawasan di sekitar stasiun kereta berkembang dalam beberapa tahun terakhir.
Pembahasan tersebut muncul setelah akun @Ardaffaf mengkritik kondisi transportasi publik di sejumlah daerah. Dari perdebatan mengenai bus kota dan APBD, percakapan kemudian berkembang ke persoalan tata ruang dan akses transportasi di Tangerang Selatan.
Salah satu topik yang sering muncul adalah pengembangan kawasan berbasis transit atau Transit Oriented Development (TOD) yang tumbuh di sekitar sejumlah stasiun KRL.
Secara umum, TOD merupakan konsep pembangunan yang menempatkan permukiman, pusat kegiatan ekonomi, dan fasilitas publik di sekitar simpul transportasi massal. Tujuannya adalah memudahkan masyarakat berjalan kaki menuju moda transportasi tanpa harus bergantung pada kendaraan pribadi.
Di Tangerang Selatan, sejumlah kawasan yang sering dikaitkan dengan konsep tersebut berada di sekitar Stasiun Cisauk, Jurangmangu, Rawa Buntu, Pondok Ranji, dan Sudimara.
Perkembangan kawasan di sekitar stasiun-stasiun tersebut banyak melibatkan pengembang properti besar yang membangun apartemen, pusat perbelanjaan, area komersial, hingga fasilitas pejalan kaki yang terhubung langsung dengan stasiun.
Kondisi tersebut membuat sejumlah pengguna media sosial mempertanyakan siapa yang paling menikmati manfaat pengembangan berbasis transit tersebut.
Dalam berbagai diskusi mengenai transportasi Tangsel, muncul pandangan bahwa fasilitas pejalan kaki, akses menuju stasiun, dan integrasi transportasi sering kali berkembang lebih cepat di kawasan yang berada dalam pengelolaan pengembang besar dibanding wilayah permukiman lain yang berada di luar kawasan tersebut.
Akibatnya, pengalaman warga menuju stasiun dapat berbeda meskipun berada dalam kota yang sama. Di beberapa kawasan, akses menuju transportasi massal didukung trotoar yang lebar dan terhubung langsung ke pusat aktivitas. Di kawasan lain, warga masih harus menggunakan kendaraan tambahan atau berjalan melalui jalan lingkungan yang tidak sepenuhnya ramah pejalan kaki.
Perdebatan mengenai konsep TOD Tangsel juga muncul karena pertumbuhan kawasan di sekitar stasiun sering beriringan dengan pembangunan properti bernilai tinggi. Kehadiran stasiun KRL menjadi salah satu faktor yang meningkatkan nilai lahan dan harga hunian di sekitarnya.
Karena itu, dalam berbagai percakapan mengenai tata ruang dan transportasi di Tangerang Selatan, pembahasan tidak hanya berfokus pada keberadaan stasiun atau konektivitas kereta. Banyak pengguna juga menyoroti hubungan antara pengembangan kawasan berbasis transit, pertumbuhan properti, serta akses masyarakat terhadap fasilitas transportasi yang tersedia di sekitar simpul-simpul mobilitas tersebut. ***



