LENTERAMERAH – Kemacetan menjadi salah satu isu yang paling sering muncul ketika pengguna media sosial X membahas Tangerang Selatan. Dalam diskusi mengenai transportasi publik yang dipicu unggahan akun @Ardaffaf, berbagai komentar tidak hanya menyinggung soal bus kota dan APBD, tetapi juga kondisi lalu lintas yang setiap hari dihadapi warga.
Perdebatan tersebut berawal dari kritik terhadap daerah-daerah yang dinilai belum serius membangun transportasi umum meski memiliki kemampuan fiskal yang cukup besar.
Dalam rangkaian tanggapan yang muncul, nama Tangerang Selatan berulang kali disebut sebagai contoh kota yang masih sangat bergantung pada kendaraan pribadi untuk menunjang aktivitas harian masyarakat.
Kondisi itu terlihat dari pola perjalanan warga yang sebagian besar menggunakan mobil dan sepeda motor untuk berpindah dari kawasan permukiman menuju pusat kegiatan ekonomi, sekolah, pusat perbelanjaan, maupun stasiun kereta.
Berbeda dengan kota yang memiliki jaringan bus perkotaan yang luas, banyak perjalanan di Tangerang Selatan masih mengandalkan kendaraan pribadi sejak titik keberangkatan hingga tujuan akhir.
Sejumlah ruas jalan seperti kawasan Pamulang, Ciputat, Pondok Aren, Serpong, hingga berbagai akses menuju Jakarta kerap menjadi titik kemacetan pada jam sibuk pagi dan sore hari.
Dalam diskusi yang berkembang di X, akun @wat_aiwan64 membandingkan Tangerang Selatan dengan Daerah Istimewa Yogyakarta yang memiliki layanan Trans Jogja. Sementara akun @garlikpwdr menyinggung ketergantungan kota tersebut terhadap fasilitas mobilitas yang disediakan pengembang swasta.
Komentar-komentar tersebut kemudian berkembang menjadi pembahasan mengenai hubungan antara transportasi publik dan kemacetan.
Banyak pengguna berpendapat bahwa semakin terbatas pilihan transportasi umum, semakin besar pula ketergantungan masyarakat terhadap mobil dan sepeda motor. Akibatnya, pertumbuhan kendaraan terus menambah tekanan pada jaringan jalan yang sudah ada.
Di sisi lain, pembangunan jalan baru atau pelebaran jalan sering menjadi solusi yang paling terlihat secara fisik. Namun sejumlah pengguna dalam diskusi tersebut mempertanyakan apakah pendekatan tersebut cukup untuk mengurangi kemacetan dalam jangka panjang jika jumlah kendaraan terus bertambah setiap tahun.
Karena itulah pembahasan mengenai mimpi buruk kemacetan Tangsel dalam percakapan di media sosial tidak berdiri sendiri. Topik tersebut selalu muncul bersamaan dengan isu transportasi umum, perencanaan kota, pertumbuhan kawasan permukiman, serta mobilitas jutaan warga yang setiap hari bergerak di salah satu kota penyangga Jakarta dengan tingkat aktivitas ekonomi yang sangat tinggi. ***




