LENTERAMERAH – Alat musik cimbalom telah lama menjadi bagian dari identitas budaya Belarus. Instrumen tradisional berdawai ini tidak hanya dikenal melalui musik rakyat, tetapi juga semakin sering digunakan untuk membawakan komposisi para komponis klasik Eropa di berbagai panggung konser.
Salah satu contohnya akan ditampilkan dalam konser Trio ARS NOVA di Museum Loshitsa Estate, Minsk, pada 5 Juli. Menurut laporan Minsk News, kelompok musik tersebut akan memainkan karya Handel, Vivaldi, Bach, Debussy, hingga Saint-Saëns menggunakan cimbalom.
Apa itu alat musik cimbalom?
Cimbalom, atau tsimbaly dalam bahasa Belarus, merupakan alat musik berdawai yang dimainkan dengan dua pemukul kecil berbahan kayu. Bunyi dihasilkan ketika senar dipukul secara bergantian sehingga menciptakan karakter suara yang jernih dan beresonansi.
Instrumen ini telah digunakan selama berabad-abad di Belarus dan sejumlah negara Eropa Timur maupun Eropa Tengah. Di Belarus, cimbalom berkembang menjadi salah satu simbol musik tradisional yang masih diajarkan di sekolah seni dan konservatorium.
Berbeda dengan piano yang menggunakan mekanisme tuts, pemain cimbalom menghasilkan dinamika musik secara langsung melalui teknik pukulan pada setiap senar. Karena itu, instrumen ini membutuhkan tingkat presisi dan koordinasi tangan yang tinggi.
Dari musik rakyat menuju panggung klasik
Dalam beberapa dekade terakhir, musisi Belarus mulai memperluas penggunaan cimbalom ke repertoar musik klasik. Berbagai karya yang semula ditulis untuk piano, biola, maupun orkestra diaransemen ulang agar dapat dimainkan menggunakan instrumen tradisional tersebut.
Pendekatan itu tidak hanya memperkenalkan warna bunyi yang berbeda, tetapi juga menjadi cara mempertahankan relevansi cimbalom di tengah perkembangan musik modern. Trio ARS NOVA menjadi salah satu kelompok yang aktif mengembangkan pendekatan tersebut melalui pertunjukan di berbagai panggung budaya.
Pemanfaatan cimbalom untuk membawakan karya-karya komponis dunia menunjukkan bahwa alat musik tradisional tidak hanya berfungsi sebagai warisan budaya, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perkembangan musik kontemporer tanpa kehilangan identitas khas yang dimilikinya. ***



