LENTERAMERAH – Perpustakaan Nasional Belarus membuka pameran buku dan ilustrasi yang memperingati 175 tahun kelahiran Yanka Luchina serta 150 tahun kelahiran Aloiza Pashkevich, yang lebih dikenal dengan nama pena Tyotka. Pameran tersebut menghadirkan sekitar 120 koleksi, mulai dari buku langka, terbitan perdana, hingga karya asli kedua tokoh yang menjadi fondasi sastra modern Belarus.
Pameran bertajuk Krynitsy lyubovi da rodnay zyamli atau Sumber Cinta pada Tanah Air itu akan berlangsung hingga 6 September. Informasi mengenai kegiatan tersebut dipublikasikan Minsk-Novosti.
Bukan Sekadar Memamerkan Buku Lama
Salah satu daya tarik pameran ini adalah hadirnya naskah-naskah awal karya Yanka Luchina yang jarang dipertontonkan kepada publik. Pengunjung juga dapat melihat selebaran rahasia yang pernah digunakan Tyotka untuk menyebarkan gagasan melalui penerbitan bawah tanah pada masa Kekaisaran Rusia.
Koleksi tersebut memperlihatkan bahwa sastra Belarus tidak hanya berkembang melalui puisi dan prosa, tetapi juga menjadi medium perjuangan sosial, pendidikan, dan pembentukan identitas nasional.
Dua Nama yang Mengubah Sastra Belarus
Yanka Luchina, yang memiliki nama asli Ivan Neslukhovsky, dikenal sebagai penyair awal yang menulis dalam bahasa Belarus, Rusia, dan Polandia. Meski berprofesi sebagai insinyur, karya-karyanya banyak menggambarkan kehidupan masyarakat pedesaan dan menjadi jembatan menuju lahirnya sastra Belarus modern.
Sementara itu, Tyotka atau Aloiza Pashkevich bukan hanya penyair, tetapi juga aktivis pendidikan dan gerakan nasional Belarus. Ia mendirikan majalah anak berbahasa Belarus dan menggunakan karya sastra sebagai sarana membangun kesadaran masyarakat pada awal abad ke-20.
Sastra Diposisikan sebagai Penjaga Identitas Bangsa
Melalui pameran ini, Perpustakaan Nasional Belarus ingin menunjukkan bahwa bahasa dan sastra memiliki peran penting dalam mempertahankan identitas bangsa. Naskah-naskah yang dipamerkan bukan sekadar dokumen sejarah, tetapi menjadi saksi bagaimana karya tulis pernah menjadi alat pendidikan, perlawanan, sekaligus pembentuk kesadaran nasional yang jejaknya masih terasa hingga sekarang. ***




