IPO SWAP, Pengembangan Bisnis atau Exit Strategy dengan Uang Publik?

Dana IPO SWAP hingga Rp45,22 miliar akan digunakan sebagian untuk bayar utang lama. Ke mana uang publik mengalir?

LENTERAMERAH – PT Swayasa Prakarsa Tbk (SWAP) bersiap menjadi emiten baru di Bursa Efek Indonesia. Perseroan menjadwalkan penawaran umum perdana saham pada 2–8 September 2026 dan pencatatan saham di BEI pada 10 September 2026.

Dalam aksi tersebut, SWAP menawarkan hingga 323 juta saham baru kepada publik dengan harga Rp130 hingga Rp140 per saham. Jika seluruh saham terserap pada harga tertinggi, perseroan berpotensi menghimpun dana hingga Rp45,22 miliar.

Publik nantinya akan memegang hingga 30,30% saham SWAP. Sementara PT Gama Multi Usaha Mandiri tetap menjadi pemegang saham terbesar dengan kepemilikan 67,72% setelah IPO.

Namun, calon investor perlu melihat lebih jauh ke mana dana yang mereka setorkan akan mengalir.

Berdasarkan prospektus penawaran umum perdana, SWAP mengalokasikan sekitar Rp12 miliar dana hasil IPO untuk membayar utang. Jumlah itu bukan angka kecil. Dengan nilai IPO maksimal Rp45,22 miliar, lebih dari seperempat dana yang dihimpun dari publik digunakan untuk menyelesaikan kewajiban yang sudah ada sebelum perusahaan masuk bursa.

Yang lebih menarik, sebagian pembayaran tersebut ditujukan kepada entitas yang berada dalam ekosistem pemegang saham pengendali.

Sekitar Rp2 miliar dialokasikan untuk membayar utang kepada PT Gama Multi Usaha Mandiri, pemegang saham terbesar SWAP. Sementara sekitar Rp10 miliar digunakan untuk membayar kewajiban kepada Yayasan Universitas Gadjah Mada.

Analis pasar modal Strategi Institute, Fauzan Luthsa, mempertanyakan tujuan strategis IPO, “perusahaan masuk bursa untuk menghimpun uang publik. Tetapi dari uang yang masuk itu, sebagian digunakan untuk membayar utang lama yang sudah ada sebelum IPO. Investor perlu bertanya, siapa yang lebih dahulu menikmati manfaat dari masuknya uang publik tersebut?,” kata Fauzan.

Menurutnya, pembayaran utang menggunakan dana IPO bukan pelanggaran. Namun persoalan menjadi menarik ketika kreditur yang menerima pembayaran berada dalam lingkaran korporasi yang sudah terhubung dengan perusahaan sebelum IPO.

“Publik membeli saham dengan harapan ikut menikmati pertumbuhan perusahaan. Tetapi dalam transaksi ini, sebagian uang publik justru digunakan untuk menyelesaikan kewajiban masa lalu. Artinya, investor perlu menghitung berapa dana yang benar-benar tersisa untuk membangun bisnis ke depan,” ujarnya.

Salah satu kewajiban kepada GMUM juga berkaitan dengan pendanaan produksi GeNose pada 2021. Padahal, berdasarkan prospektus perseroan, produksi GeNose telah dihentikan sejak 2022.

Baginya ini menjadi semakin penting untuk diperhatikan calon investor.

“Produk sudah berhenti diproduksi, tetapi kewajibannya masih ada. Lalu kewajiban itu diselesaikan ketika perusahaan menghimpun dana dari publik. Ini bukan sekadar soal untung atau rugi. Ini soal memahami apa yang sebenarnya dibawa perusahaan ketika masuk ke bursa,” katanya.

SWAP memang tetap menyiapkan sebagian dana IPO untuk modal kerja dan belanja modal. Namun struktur penggunaan dana menunjukkan bahwa IPO bukan hanya tentang membiayai rencana bisnis baru.

Sebagian dana publik juga akan digunakan untuk menyelesaikan tagihan dari masa lalu.

“Investor harus melihat IPO bukan hanya dari cerita masa depannya. Mereka juga harus melihat apa yang sedang dibereskan perusahaan menggunakan uang yang mereka masukkan,” kata Fauzan. ***