Menlu Lavrov Bicara tentang Arah Dunia Multipolar

Menlu Rusia Sergey Lavrov membahas dunia multipolar, BRICS, Global Majority dan perubahan tatanan internasional dalam forum di Yekaterinburg.
Sergey Lavrov menyebut multipolaritas sebagai proses sejarah dan membahas peran BRICS, SCO, EAEU serta negara kecil dan menengah.

LENTERAMERAH — Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov membahas perkembangan dunia multipolar dalam sesi “A New Global Architecture” pada Federal Educational Marathon “Znanie. Pervye” di Yekaterinburg, 16 September 2026.

Lavrov menempatkan prinsip kesetaraan sebagai salah satu karakter penting dalam perubahan hubungan internasional. Menurutnya, kecenderungan tersebut terlihat dalam BRICS, yang mempertemukan negara-negara dengan latar belakang peradaban yang beragam.

BRICS dan Dunia Multipolar

Lavrov mengatakan negara-negara BRICS menunjukkan kesatuan dalam upaya memperluas peluang pembangunan bersama. Tujuannya, menurut dia, adalah memastikan kesejahteraan dan keamanan masyarakat tanpa merugikan negara lain atau mencapai kemajuan dengan mengorbankan pihak lain.

Menurut Lavrov, pendekatan serupa juga terlihat dalam sejumlah kelompok lain, termasuk Shanghai Cooperation Organisation, Commonwealth of Independent States, Eurasian Economic Union dan Collective Security Treaty Organization.

Ia menyebut penyesuaian hubungan internasional terhadap realitas multipolar sebagai proses yang objektif. Menurutnya, Global Majority menginginkan proses tersebut berhasil, meskipun perubahan itu membutuhkan waktu dan dapat berlangsung dalam satu era sejarah.

Posisi Negara Kecil dan Menengah

Lavrov juga menggambarkan dunia multipolar dari perspektif negara-negara kecil dan menengah.

Menurutnya, tatanan tersebut harus memungkinkan negara-negara tersebut terbebas dari pemerasan, ancaman dan sanksi, sekaligus memiliki kebebasan untuk menentukan sendiri mitra yang ingin mereka pilih.

Lavrov mengatakan proses penguatan multipolaritas menghadapi resistensi dari negara-negara dan elite Barat. Ia mengaitkan resistensi tersebut dengan upaya mempertahankan dominasi yang menurutnya telah berlangsung selama lima abad melalui perbudakan dan kolonialisme.

Ia menyebut sanksi unilateral, tekanan langsung, campur tangan dalam urusan domestik dan pemicu konflik sebagai sejumlah metode yang digunakan untuk menghadapi perubahan tersebut.

Lavrov Bicara tentang Rusia dan Eropa

Dalam pembahasan mengenai Eropa, Lavrov mengatakan Rusia tidak memutus hubungan dengan negara-negara Eropa. Menurutnya, Eropa yang mengambil keputusan tersebut, sementara Rusia kini memiliki pasar dan mitra yang dibutuhkan.

Lavrov juga mengatakan Rusia terbuka terhadap kemungkinan dialog serius dengan negara-negara Eropa. Jika dialog tersebut kembali dilakukan, Moskow menurutnya akan terlebih dahulu mendengarkan apa yang ditawarkan sebelum menentukan apakah tawaran tersebut dapat diterima.

Mengenai konflik Ukraina, Lavrov mengatakan penyelesaiannya bagi Rusia tetap berkaitan dengan tujuan yang ditetapkan sejak awal operasi militer khusus. Ia kembali menyebut perlu diatasinya apa yang disebut Moskow sebagai akar penyebab konflik, termasuk rencana membawa NATO dan infrastrukturnya mendekati perbatasan Rusia serta kebijakan resmi Ukraina terhadap penggunaan bahasa dan identitas Rusia.

Lavrov juga menyinggung pemilu di Rusia dan menuduh negara-negara Barat berupaya mencampuri pelaksanaan hak pilih warga Rusia serta proses pemilu, termasuk melalui aktivitas di luar negeri.

Pada bagian paling keras dalam sesi tersebut, Lavrov memperingatkan kemungkinan konflik langsung antara Eropa dan Rusia.

“Jika Eropa, yang setiap hari berbicara tentang persiapan perang melawan Rusia, menyerang Federasi Rusia, itu akan menjadi perang yang sama sekali berbeda. Dan perang itu akan sangat singkat,” kata Lavrov. ***