Micron dan Siklus Baru Memory di Era AI

Kinerja Micron menunjukkan permintaan memory untuk AI masih menguat. Namun, ekspansi kapasitas produsen menjadi variabel penting bagi siklus berikutnya.
Kinerja Micron menunjukkan permintaan memory terkait AI masih kuat, tetapi ekspansi capex dapat menjadi risiko bagi siklus 2027–2028.

LENTERAMERAH — Kinerja Micron Technologies menjadi salah satu indikator yang menarik untuk membaca seberapa jauh ledakan investasi artificial intelligence (AI) masih mendorong permintaan terhadap infrastruktur komputasi.

Andreas Steno Larsen, analis makro dan pasar yang juga dikenal melalui Real Vision serta pendiri NowcastIQ, membaca laporan terbaru Micron sebagai tanda bahwa siklus pendapatan industri memory belum melambat. Sebaliknya, menurut Larsen, siklus tersebut justru memasuki fase akselerasi ketika pasar mulai mempertanyakan apakah reli saham berbasis AI sudah mendekati puncaknya.

Larsen mencatat Micron membukukan pendapatan US$54,2 miliar, meningkat 379% secara tahunan dan sekitar US$3 miliar di atas konsensus. Perusahaan juga memberikan panduan pendapatan kuartal berikutnya sebesar US$61,5 miliar, dibandingkan ekspektasi pasar sekitar US$57 miliar.

Ada satu detail yang menurut Larsen membuat angka tersebut semakin signifikan. Kuartal keempat berlangsung selama 14 minggu, sedangkan kuartal berikutnya kembali menjadi 13 minggu. Dengan demikian, kenaikan pendapatan secara berurutan dalam basis normal 13 minggu sebenarnya lebih besar daripada yang terlihat dari angka headline.

Bagi Larsen, angka tersebut menunjukkan bahwa siklus pendapatan industri memory belum menunjukkan tanda perlambatan. Justru, kinerja Micron datang ketika pasar selama beberapa bulan terakhir mulai menekan valuasi perusahaan-perusahaan yang terkait dengan AI.

Memory bukan lagi sekadar bisnis siklikal

Salah satu perdebatan lama dalam industri memory adalah apakah lonjakan permintaan hanya merupakan bagian dari siklus boom-bust. Larsen menilai hasil Micron memberikan alasan untuk mempertanyakan asumsi tersebut.

Ia menunjuk gross margin sekitar 87%, hampir US$100 miliar kewajiban kinerja yang masih tersisa dari perjanjian dengan pelanggan strategis, serta arus kas bebas sekitar US$33 miliar dalam kuartal tersebut. Micron juga disebut memiliki sekitar US$73 miliar kas di neraca.

Menurut Larsen, kontrak jangka panjang tidak menghilangkan siklus industri memory, tetapi dapat memperpanjang siklus tersebut. Posisi kas dan arus kas yang kuat juga memberikan ruang bagi Micron untuk membiayai ekspansi, termasuk pembangunan fasilitas di Idaho, sekaligus mengembalikan sebagian dana kepada pemegang saham tanpa harus bergantung pada pasar utang.

Di titik ini, Larsen membedakan posisi Micron dari perusahaan neocloud. Menurutnya, perusahaan memory memiliki kapasitas pendanaan internal yang jauh lebih besar untuk menjalankan ekspansi ketika permintaan meningkat.

HBM menjadi bagian penting dari ledakan AI

Hubungan antara Micron dan AI terutama terletak pada kebutuhan terhadap memory berperforma tinggi. Dalam pembacaan Larsen, permintaan tersebut tidak hanya berasal dari proses training model AI, tetapi juga dari inference ketika model digunakan dalam skala besar.

Training membutuhkan bandwidth memory yang besar, sementara inference membutuhkan kapasitas. Karena itu, pertumbuhan AI menciptakan permintaan pada dua sisi sekaligus.

Larsen juga menghubungkan prospek tersebut dengan HBM4 yang diperkirakan mulai memasuki volume produksi pada 2027. Bagi tesis investasinya, pertumbuhan volume HBM menjadi salah satu alasan mengapa pasar dinilai masih terlalu cepat mengasumsikan bahwa lonjakan keuntungan Micron akan segera berakhir.

Ketika laba naik tetapi pasar masih melihat siklus lama

Larsen juga memberikan perhatian besar pada valuasi. Berdasarkan panduannya terhadap kuartal berikutnya, ia menghitung run-rate earnings per share Micron sekitar US$153 dan membandingkannya dengan harga saham US$1.070.

Dari perhitungan tersebut, Larsen memperoleh valuasi sekitar tujuh kali earnings. Ia membandingkannya dengan sekitar 22 kali untuk S&P 500 dan valuasi jauh lebih tinggi pada perusahaan teknologi seperti CrowdStrike.

Ini merupakan pembacaan Larsen terhadap pasar, bukan ukuran yang secara otomatis menentukan apakah saham Micron murah atau mahal. Inti argumennya adalah bahwa investor masih memberikan valuasi kepada bisnis memory dengan asumsi siklus keuntungan akan segera berakhir, sementara panduan perusahaan justru menunjukkan pertumbuhan yang berlanjut menuju 2027.

Capex menjadi angka yang perlu diperhatikan

Di balik optimisme tersebut, Larsen justru menempatkan belanja modal sebagai variabel yang paling perlu diperhatikan.

Micron disebut mengeluarkan sekitar US$27 miliar untuk capital expenditure pada tahun fiskal 2026, sementara free cash flow mencapai sekitar US$62 miliar. Selama permintaan tetap kuat, kombinasi tersebut memberikan ruang bagi perusahaan untuk memperluas kapasitas.

Namun, persoalannya muncul jika seluruh produsen memory melakukan hal yang sama secara bersamaan. Menurut Larsen, apabila tiga produsen memory utama meningkatkan capex secara agresif sekaligus, kondisi tersebut dapat menjadi sinyal awal perubahan siklus pada 2027–2028.

Ada tanda lain yang juga diperhatikan. Manajemen Micron telah mengindikasikan bahwa laju kenaikan harga mulai moderat. Artinya, pertumbuhan berikutnya semakin bergantung pada volume dan kontrak, bukan semata-mata kenaikan harga.

Bagi Larsen, perubahan itu justru penting untuk menguji apakah pertumbuhan Micron benar-benar memiliki daya tahan. Jika pertumbuhan dapat berlanjut ketika kenaikan harga mulai melambat, maka tesisnya bergeser dari sekadar memanfaatkan lonjakan harga memory menuju melihat bisnis tersebut sebagai penerima manfaat struktural dari ekspansi AI.

Larsen menyatakan bahwa ia tetap memegang posisi di Micron, tetapi tidak menambah kepemilikan setelah saham tersebut mencatat kenaikan sekitar 290%. Posisi tersebut menunjukkan bahwa pembacaan bullish terhadap fundamental Micron tidak identik dengan anggapan bahwa setiap kenaikan harga saham merupakan kesempatan membeli.

Bagi pasar memory, pertanyaan berikutnya bukan hanya seberapa besar AI meningkatkan permintaan. Pertanyaannya adalah apakah ekspansi kapasitas akan bergerak lebih cepat daripada permintaan ketika produsen mulai mengejar siklus pertumbuhan yang sama. ***