LENTERAMERAH — Pada 29 September 2026, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumpulkan sejumlah nama terbesar industri teknologi dan kecerdasan buatan di East Room, Gedung Putih, Washington, D.C. Elon Musk, Jeff Bezos, Mark Zuckerberg, Jensen Huang, Sundar Pichai, Satya Nadella, Dario Amodei, Lisa Su, dan sejumlah eksekutif teknologi lainnya hadir dalam pertemuan tersebut.
Pertemuan itu membahas masa depan teknologi AI, keamanan model AI frontier, kebutuhan ekspansi data center dan infrastruktur, serta posisi Amerika Serikat dalam persaingan teknologi dengan China.
Salah satu hasilnya adalah White House Accord on Super Intelligence, sebuah komitmen sukarela perusahaan-perusahaan teknologi untuk memperkuat pengawasan terhadap keamanan model AI. Kesepakatan tersebut mencakup pengendalian internal, evaluasi, audit eksternal, serta pengawasan di tingkat dewan perusahaan.
Pada hari yang sama, Trump juga menandatangani executive order yang memperkenalkan istilah “Super Intelligence” sebagai istilah resmi yang digunakan pemerintah AS untuk menggantikan Artificial Intelligence dalam komunikasi dan dokumen tertentu.
Namun, bagi ekonom Gabriel Zucman, foto pertemuan tersebut menyampaikan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar perkembangan teknologi.
Foto itu menjadi titik awal thread yang ia publikasikan pada 30 September untuk membahas konsentrasi kekayaan ekstrem dan hubungan antara kekayaan dengan kekuasaan.
Menurut Zucman, kekayaan seluruh miliarder dunia kini setara dengan sekitar 17 persen dari PDB global. Empat dekade sebelumnya, ketika daftar miliarder Forbes pertama kali diterbitkan pada 1987, angkanya sekitar 3 persen.
Perbandingan tersebut menunjukkan perubahan skala yang sangat besar. Kekayaan yang terkonsentrasi pada sekitar 3.000 rumah tangga miliarder kini memiliki ukuran relatif terhadap ekonomi dunia yang jauh lebih besar dibandingkan generasi sebelumnya.
Zucman kemudian membawa perbandingan itu ke Amerika Serikat. Pada puncak Gilded Age, sejumlah kekayaan terbesar seperti milik Rockefeller, Carnegie dan Astor jika digabungkan memiliki daya beli yang setara dengan sekitar 4 persen dari seluruh barang dan jasa yang diproduksi Amerika Serikat dalam setahun.
Hari ini, menurut perhitungannya, kelompok yang secara proporsional jauh lebih kecil—top 0,00001 persen, yang mencakup sekitar 19 rumah tangga—memiliki kekayaan yang setara dengan sekitar 14 persen output tahunan Amerika Serikat.
Di titik inilah persoalan kekayaan berubah menjadi persoalan kekuasaan.
Kekayaan ekstrem memberikan kemampuan untuk memengaruhi wacana publik, kebijakan, teknologi dan kompetisi ekonomi. Kepemilikan terhadap perusahaan media dan platform digital membuat hubungan antara modal, informasi dan kekuasaan politik menjadi semakin sulit dipisahkan.
Foto dari Gedung Putih menjadi ilustrasi konkret dari argumen tersebut. Orang-orang yang berada dalam satu ruangan bukan hanya mengendalikan perusahaan teknologi bernilai sangat besar, tetapi juga memiliki posisi yang menentukan dalam perkembangan teknologi yang semakin memengaruhi ekonomi, komunikasi dan kehidupan politik.
Zucman juga mengaitkan konsentrasi kekayaan dengan distribusi pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat. Menurut estimasinya, pendapatan rata-rata per orang dewasa meningkat 1,9 persen setelah inflasi pada 2025, tetapi pertumbuhan tersebut tidak terdistribusi secara merata.
Kelompok 50 persen terbawah tidak mengalami pertumbuhan, sementara 40 persen berikutnya hanya memperoleh peningkatan kecil. Sebagian besar pertumbuhan terkonsentrasi pada 10 persen teratas.
Pada saat yang sama, keuntungan korporasi Amerika Serikat berada pada tingkat yang sangat tinggi dibandingkan ukuran ekonomi. Kenaikan keuntungan dan ekspektasi keuntungan masa depan ikut mendorong kenaikan nilai aset yang kemudian memperbesar kekayaan kelompok yang sudah berada di puncak.
Perkembangan AI menambah dimensi baru. Teknologi yang mampu menghasilkan perusahaan bernilai sangat besar dan menciptakan kekayaan baru dalam waktu singkat juga dapat mempercepat konsentrasi kepemilikan apabila keuntungan ekonominya terutama mengalir kepada pemilik modal dan perusahaan yang menguasai teknologi tersebut.
Karena itu, dalam pembacaan Zucman, persoalannya bukan hanya berapa banyak uang yang dimiliki para miliarder. Yang menjadi perhatian adalah perubahan hubungan antara kekayaan dan kemampuan untuk memengaruhi sistem ekonomi, politik dan teknologi.
Ia menempatkan perkembangan tersebut dalam perspektif historis yang lebih panjang. Setelah Perang Dunia II, konsentrasi kekayaan ekstrem di negara-negara Barat sempat mengalami penurunan. Namun dalam beberapa dekade terakhir, konsentrasi tersebut kembali meningkat.
AI kemudian muncul pada saat akumulasi kekayaan di puncak sudah berlangsung sangat cepat. Jika perkembangan teknologi menghasilkan valuasi perusahaan yang semakin besar sementara kepemilikan tetap terkonsentrasi, ledakan AI dapat menjadi akselerator baru bagi akumulasi kekayaan di kelompok paling atas.
Zucman sendiri merupakan ekonom yang banyak meneliti ketimpangan kekayaan, perpajakan dan konsentrasi modal. Ia berafiliasi dengan Paris School of Economics dan University of California, Berkeley, serta dikenal melalui penelitian mengenai distribusi kekayaan global dan sistem perpajakan internasional. ***




