LENTERAMERAH — Presiden Donald Trump mempertemukan sejumlah nama terbesar industri teknologi dan kecerdasan buatan di Gedung Putih pada 29 September 2026. Pertemuan yang berlangsung di East Room itu mempertemukan para eksekutif perusahaan teknologi dengan pejabat pemerintahan AS untuk membahas perkembangan dan keamanan teknologi kecerdasan buatan.
Sejumlah tokoh industri yang hadir antara lain Elon Musk, Jeff Bezos, Mark Zuckerberg, Jensen Huang, Sundar Pichai, Satya Nadella, Dario Amodei, Lisa Su, Alex Karp dan Greg Brockman. Dari pemerintahan Trump, hadir antara lain Wakil Presiden JD Vance, Menteri Keuangan Scott Bessent, Menteri Perdagangan Howard Lutnick dan sejumlah pejabat yang menangani teknologi serta keamanan nasional.
Salah satu agenda utama pertemuan adalah keamanan sistem AI generasi depan. Pembahasannya mencakup risiko keamanan siber, biosekuriti, ancaman kimia, pengawasan terhadap kemampuan model, serta mekanisme untuk memastikan sistem AI tidak melakukan tindakan yang tidak diinginkan.
Pertemuan itu juga menghasilkan sebuah komitmen sukarela mengenai tanggung jawab perusahaan terhadap keamanan teknologi yang mereka kembangkan. Trump menyebut komitmen tersebut sebagai sesuatu yang bersifat “morally binding”, dengan mekanisme pengawasan internal, evaluasi eksternal dan keterlibatan komite independen di tingkat dewan perusahaan.
Pada hari yang sama, Trump juga menandatangani perintah eksekutif yang memperkenalkan penggunaan istilah “Super Intelligence” atau SI dalam komunikasi resmi pemerintah AS untuk menggantikan istilah artificial intelligence atau AI.
Namun, foto dari pertemuan tersebut kemudian digunakan ekonom Gabriel Zucman untuk membangun argumen yang jauh lebih besar daripada sekadar persoalan perkembangan teknologi.
Zucman menampilkan foto pertemuan itu dengan anotasi mengenai perkiraan kekayaan sejumlah orang yang hadir. Bagi ekonom yang banyak meneliti ketimpangan kekayaan dan perpajakan internasional tersebut, gambar para miliarder dan eksekutif teknologi yang duduk bersama presiden menjadi ilustrasi mengenai konsentrasi kekayaan dan kekuasaan.
Dalam unggahan yang diterbitkan pada 30 September 2026, Zucman menyebut konsentrasi kekayaan ekstrem dan kekuasaan di tangan kelompok yang sangat kecil sebagai perkembangan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ia menggunakan ukuran kekayaan miliarder terhadap produk domestik bruto dunia untuk menggambarkan perubahan tersebut.
Menurut perhitungannya, total kekayaan para miliarder global kini setara sekitar 17 persen dari PDB dunia. Pada 1987, ketika Forbes pertama kali menerbitkan daftar miliarder, angkanya disebut hanya sekitar 3 persen.
Perbandingan itu kemudian ia tarik ke Amerika Serikat. Pada era Gilded Age, empat kekayaan terbesar Amerika—yang mencakup nama-nama seperti John D. Rockefeller, Andrew Carnegie dan keluarga Astor—secara gabungan disebut setara dengan sekitar 4 persen dari seluruh barang dan jasa yang diproduksi AS dalam setahun.
Dalam perhitungan Zucman, kelompok yang secara proporsional sama kecilnya saat ini—sekitar 19 rumah tangga yang berada di puncak distribusi kekayaan—memiliki kekayaan yang setara dengan sekitar 14 persen output ekonomi tahunan AS.
Angka tersebut menjadi dasar bagi argumennya bahwa persoalan kekayaan ekstrem tidak berhenti pada distribusi aset. Menurut Zucman, konsentrasi kekayaan juga menghasilkan konsentrasi kekuasaan.
Kekuasaan tersebut dapat muncul dalam berbagai bentuk: kemampuan memengaruhi wacana publik, memengaruhi kebijakan, membiayai aktivitas politik, mengembangkan teknologi dengan konsekuensi besar, hingga menguasai perusahaan dan platform media.
Ia kemudian menghubungkan persoalan itu dengan lanskap media dan teknologi. Sejumlah miliarder yang hadir atau terkait dengan ekosistem teknologi AS juga memiliki atau mengendalikan perusahaan media dan platform digital dengan jangkauan global.
Elon Musk memiliki X, Jeff Bezos memiliki The Washington Post, sementara Meta milik Mark Zuckerberg mengendalikan Facebook, Instagram dan WhatsApp. Dalam pandangan Zucman, konsentrasi kepemilikan semacam itu membuat persoalan kekayaan sekaligus menjadi persoalan distribusi pengaruh.
Argumen tersebut menjadi lebih relevan ketika ditempatkan dalam konteks pertemuan Gedung Putih sehari sebelumnya. Di ruangan yang sama, para pemilik dan pemimpin perusahaan dengan sumber daya finansial luar biasa besar sedang membicarakan teknologi yang diperkirakan akan membentuk ekonomi, keamanan dan kehidupan sosial pada dekade mendatang.
Zucman juga melihat perkembangan ekonomi terbaru melalui distribusi pendapatan. Dalam estimasinya, pendapatan rata-rata per orang dewasa meningkat sekitar 1,9 persen setelah inflasi pada 2025. Namun, menurut perhitungannya, pertumbuhan tersebut hampir seluruhnya terkonsentrasi pada kelompok 10 persen teratas, sementara 50 persen terbawah tidak mengalami pertumbuhan berarti.
Ia mengaitkan perkembangan tersebut dengan meningkatnya keuntungan korporasi dan kenaikan nilai aset finansial. Dalam kerangka analisisnya, ketika keuntungan perusahaan dan valuasi aset meningkat secara cepat, pemilik modal di bagian paling atas distribusi kekayaan memperoleh manfaat yang jauh lebih besar dibandingkan kelompok lain.
Persoalan tersebut kemudian bertemu dengan revolusi AI. Teknologi yang sedang dikembangkan oleh perusahaan-perusahaan yang hadir di Gedung Putih berpotensi menghasilkan perusahaan dengan valuasi sangat besar, sekaligus menciptakan pemilik modal dengan kekayaan yang semakin terkonsentrasi.
Bagi Zucman, perkembangan AI karena itu tidak dapat dipisahkan dari pertanyaan mengenai distribusi kekayaan dan kekuasaan. Ia memperingatkan bahwa kombinasi antara konsentrasi kekayaan, pengaruh politik, kepemilikan media, teknologi baru dan perubahan sistem perpajakan dapat membentuk konfigurasi kekuasaan baru.
Dalam unggahannya, Zucman pada akhirnya mengarahkan perhatian pada kebijakan perpajakan miliarder. Ia menyerukan agar pemerintah di berbagai negara mengambil langkah untuk mengenakan pajak terhadap kekayaan ekstrem dan membangun kembali kapasitas perpajakan yang menurutnya diperlukan untuk membatasi konsentrasi kekayaan.
Gabriel Zucman merupakan ekonom Prancis-Amerika yang mengajar di Paris School of Economics dan University of California, Berkeley. Ia dikenal melalui penelitian mengenai ketimpangan kekayaan, penghindaran pajak, dan perpajakan internasional, serta menjabat sebagai direktur International Tax Observatory. ***




