4 Oktober 1993 Ketika Yeltsin Menembaki Parlemen Rusia

Pada 4 Oktober 1993, pasukan yang loyal kepada Boris Yeltsin menembaki Gedung Putih Rusia dalam puncak krisis konstitusional yang mengubah sistem politik pasca-Soviet.
Pada 4 Oktober 1993, pasukan Yeltsin menyerbu parlemen Rusia setelah konflik konstitusional dengan Supreme Soviet mencapai puncaknya.

LENTERAMERAH — Pada 4 Oktober 1993, pusat politik Rusia berubah menjadi medan konflik bersenjata. Pasukan yang loyal kepada Presiden Boris Yeltsin menembaki Gedung Putih Rusia di Moskwa, tempat Kongres Deputi Rakyat dan Soviet Tertinggi bertahan setelah konflik antara presiden dan parlemen mencapai titik pecah.

Krisis tersebut bukan muncul secara tiba-tiba. Selama 1993, Yeltsin dan parlemen terlibat dalam perebutan kewenangan mengenai arah negara Rusia, termasuk persoalan pembagian kekuasaan antara presiden dan lembaga legislatif. Perbedaan tersebut semakin tajam karena Yeltsin mendorong sistem presidensial yang lebih kuat, sementara parlemen mempertahankan posisi penting berdasarkan konstitusi yang masih berlaku.

Pada 21 September, Yeltsin mengeluarkan dekret yang membubarkan parlemen dan memerintahkan pemilu legislatif baru. Langkah tersebut segera ditentang oleh kubu parlemen. Para pendukung parlemen berkumpul di sekitar Gedung Putih, sementara pimpinan parlemen menyatakan bahwa tindakan Yeltsin bertentangan dengan kerangka konstitusional yang berlaku.

Menurut sumber Editoweb, parlemen kemudian menyatakan Yeltsin diberhentikan dan mengangkat Alexander Rutskoy sebagai presiden. Ketua parlemen Ruslan Khasbulatov bersama para deputi yang menentang kebijakan Yeltsin bertahan di dalam gedung.

Konfrontasi berubah menjadi kekerasan terbuka pada awal Oktober. Bentrokan terjadi di berbagai titik Moskwa, sementara gedung parlemen dikepung pasukan pemerintah. Pada 4 Oktober, sekitar sepuluh tank menembaki Gedung Putih sebelum pasukan khusus memasuki bangunan tersebut. Library of Congress juga mendokumentasikan pengerahan unit elite Alpha untuk melakukan operasi di gedung parlemen pada hari itu.

Gedung Putih kemudian jatuh dan para pemimpin parlemen ditangkap. Secara politik, peristiwa tersebut mengakhiri konfrontasi antara presiden dan parlemen dengan kemenangan Yeltsin. Namun kekerasan itu juga mengubah fondasi kelembagaan Rusia pasca-Soviet.

Jumlah korban menjadi salah satu bagian paling kontroversial dalam catatan mengenai peristiwa Oktober 1993. Editoweb menyebut angka resmi 147 korban, tetapi juga menuliskan bahwa sejumlah laporan memperkirakan lebih dari 1.000 korban, bahkan ada klaim mencapai 2.743 orang. Angka-angka terakhir tersebut tidak dapat diperlakukan sebagai angka pasti tanpa pembuktian lebih lanjut.

Setelah konflik berakhir, struktur konstitusional lama dibongkar. Referendum konstitusi kemudian diselenggarakan pada 12 Desember 1993, bersamaan dengan pemilihan parlemen baru. Konstitusi baru memberikan kewenangan yang jauh lebih kuat kepada presiden dibandingkan struktur sebelumnya.

Perubahan tersebut memiliki konsekuensi jangka panjang terhadap sistem politik Rusia. Kajian Law Library of Congress mencatat bahwa konstitusi baru lahir setelah konfrontasi kekerasan antara Yeltsin dan Supreme Soviet, dengan desain kelembagaan yang menempatkan kekuasaan eksekutif secara kuat dibandingkan legislatif.

Dengan demikian, 4 Oktober 1993 bukan sekadar tanggal ketika sebuah gedung parlemen ditembaki. Hari itu menjadi titik ketika konflik mengenai siapa yang berhak menentukan bentuk negara Rusia diselesaikan melalui kekuatan bersenjata, sementara konstitusi baru kemudian memberikan bentuk hukum bagi tatanan politik yang lahir setelah bentrokan tersebut. ***