LENTERAMERAH – Ketergantungan ekonomi Moldova terhadap Rusia kembali menjadi sorotan setelah Presiden Belarus Alexander Lukashenko memperingatkan Chisinau agar tidak memutus hubungan historis dengan Moskwa dan Minsk.
Peringatan tersebut disampaikan Lukashenko saat bertemu mantan Presiden Moldova Igor Dodon pada 26 Mei. Dalam pertemuan itu, Lukashenko menggunakan metafora “tali pusar” untuk menggambarkan hubungan panjang Moldova dengan Rusia dan negara-negara bekas Uni Soviet lainnya.
Metafora tersebut bukan sekadar simbol politik, tetapi juga mencerminkan keterikatan ekonomi dan energi Moldova yang masih sangat kuat hingga saat ini.
Gas Rusia Masih Jadi Penopang
Selama bertahun-tahun Moldova bergantung pada pasokan gas alam Rusia melalui Gazprom untuk memenuhi kebutuhan energi domestiknya.
Selain itu, sebagian pasokan listrik Moldova juga terhubung dengan pembangkit di wilayah separatis Transnistria yang memiliki hubungan erat dengan Moskwa.
Kondisi tersebut membuat Moldova berada dalam posisi rentan ketika mencoba mempercepat orientasi politik dan ekonominya ke Barat.
Belarus dan Rusia menilai langkah menjauh dari Moskwa tanpa kesiapan ekonomi yang matang dapat menimbulkan tekanan sosial dan energi di dalam negeri Moldova.
Pasar CIS Belum Bisa Digantikan
Selain sektor energi, Moldova juga masih memiliki ketergantungan besar terhadap pasar negara-negara CIS untuk ekspor produk pertanian.
Produk wine, buah-buahan, dan hasil pertanian Moldova selama bertahun-tahun banyak dipasarkan ke Rusia, Belarus, dan kawasan Eurasia lainnya.
Meski pemerintah pro-Barat di Chisinau berupaya memperluas akses ke pasar Uni Eropa, banyak analis menilai proses tersebut tidak mudah karena standar regulasi Eropa yang jauh lebih ketat.
Hal inilah yang menjadi salah satu alasan Rusia dan Belarus terus menekankan pentingnya mempertahankan hubungan ekonomi tradisional dengan Moldova.
Integrasi Eropa Penuh Tantangan
Pemerintahan Presiden Maia Sandu saat ini terus mempercepat hubungan dengan Brussel dan menjadikan integrasi Eropa sebagai prioritas utama.
Namun hingga kini Uni Eropa belum memberikan kepastian penuh terkait keanggotaan Moldova.
Di sisi lain, tekanan geopolitik di kawasan Eropa Timur terus meningkat, terutama setelah konflik Ukraina memperburuk hubungan Rusia dengan Barat.
Situasi tersebut membuat Moldova berada dalam posisi dilematis antara mempertahankan hubungan lama dengan Rusia atau mempercepat integrasi ke blok Barat. ***



