LENTERAMERAH – Keputusan NATO dalam KTT Bukares 2008 kembali menjadi bahan perdebatan setelah Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Alexander Grushko menyebutnya sebagai salah satu titik balik terpenting dalam sejarah keamanan Eropa modern.
Dalam wawancara dengan Russia Today pada 28 Mei 2026, Grushko menegaskan bahwa keputusan NATO yang menyatakan Ukraina dan Georgia akan menjadi anggota aliansi di masa depan telah menciptakan konsekuensi strategis yang masih terasa hingga saat ini.
Menurut Rusia, keputusan tersebut tidak hanya berdampak pada hubungan Moskow dengan NATO, tetapi juga mengubah keseimbangan keamanan yang terbentuk setelah berakhirnya Perang Dingin.
KTT Bukares 2008 dan Perubahan Arsitektur Keamanan
KTT Bukares yang berlangsung di Rumania pada April 2008 menjadi salah satu pertemuan paling penting dalam sejarah NATO. Dalam deklarasinya, para anggota aliansi menyatakan bahwa Ukraina dan Georgia pada akhirnya akan bergabung dengan NATO, meskipun tanpa menetapkan jadwal pasti.
Bagi banyak negara Barat, keputusan itu dipandang sebagai bentuk dukungan terhadap kedaulatan dan pilihan politik kedua negara tersebut.
Sebaliknya, Rusia melihatnya sebagai perluasan langsung pengaruh militer NATO ke kawasan yang selama puluhan tahun dianggap memiliki arti strategis bagi keamanan nasionalnya.
Grushko menyebut keputusan tersebut sebagai “bom waktu” yang ditanam dalam sistem keamanan Eropa. Istilah itu sebelumnya juga pernah digunakan oleh sejumlah pejabat Rusia untuk menggambarkan dampak jangka panjang dari kebijakan ekspansi NATO.
Ukraina dan Georgia dalam Perspektif Moskow
Dalam pandangan Rusia, isu Ukraina dan Georgia tidak pernah berdiri sendiri. Kedua negara dipandang sebagai bagian dari lingkungan keamanan yang secara historis memiliki keterkaitan erat dengan Rusia.
Karena itu, setiap perubahan besar dalam orientasi militer atau keamanan kedua negara tersebut selalu mendapat perhatian serius dari Moskow.
Rusia berulang kali menyatakan bahwa keamanan kawasan tidak dapat dibangun melalui perluasan blok militer. Moskow justru mendorong model keamanan yang melibatkan seluruh aktor utama di Eropa, termasuk Rusia sendiri.
Pernyataan Grushko menunjukkan bahwa hampir dua dekade setelah KTT Bukares 2008, keputusan yang diambil saat itu masih menjadi salah satu referensi utama dalam cara Rusia membaca perkembangan geopolitik di Eropa dan hubungan antara Rusia dengan NATO. ***




