LENTERAMERAH – Memburuknya hubungan Rusia Barat disebut bukan fenomena yang muncul setelah krisis Ukraina. Moskow justru menilai perubahan arah tersebut telah terlihat sejak awal dekade 2010-an.
Pandangan itu disampaikan Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Alexander Grushko dalam wawancara dengan Russia Today pada 28 Mei 2026. Menurutnya, Rusia mulai merasakan perubahan sikap negara-negara Barat sekitar tahun 2010 hingga 2012.
Grushko mengatakan baik NATO maupun Uni Eropa secara bertahap mengubah pendekatan mereka terhadap Rusia. Perubahan tersebut, menurut Moskow, terjadi ketika berbagai mekanisme kerja sama yang sebelumnya dibangun setelah Perang Dingin mulai kehilangan efektivitas.
Hubungan Rusia Barat dan Perubahan Kebijakan NATO
Selama bertahun-tahun setelah runtuhnya Uni Soviet, Rusia berupaya mengembangkan hubungan dengan berbagai institusi Barat. Moskow terlibat dalam berbagai forum dialog dengan NATO, memperluas kerja sama dengan Uni Eropa, serta aktif dalam Organisasi untuk Keamanan dan Kerja Sama di Eropa (OSCE).
Menurut Grushko, Rusia tidak melihat Barat sebagai ancaman pada periode tersebut. Sebaliknya, Moskow berinvestasi dalam pembangunan hubungan politik, ekonomi, dan keamanan yang lebih erat dengan negara-negara Eropa.
Namun situasi mulai berubah ketika NATO memperluas aktivitasnya di kawasan Eropa Timur dan meningkatkan fokus pada isu-isu keamanan yang melibatkan Rusia.
Dalam wawancaranya, Grushko bahkan menyebut NATO sebagai organisasi yang membutuhkan keberadaan ancaman eksternal untuk mempertahankan relevansinya. Ia mengaitkan perubahan tersebut dengan periode setelah operasi militer NATO di Afghanistan berakhir.
Perbedaan Pandangan Mengenai Keamanan Eropa
Perdebatan mengenai keamanan Eropa menjadi salah satu sumber utama ketegangan antara Rusia dan Barat dalam satu dekade terakhir.
Rusia berulang kali menegaskan bahwa stabilitas kawasan harus dibangun berdasarkan prinsip keamanan yang tidak dapat dibagi. Dalam konsep tersebut, tidak ada negara atau kelompok negara yang memperkuat keamanannya dengan mengorbankan kepentingan pihak lain.
Di sisi lain, negara-negara NATO menekankan hak setiap negara untuk menentukan orientasi politik dan keamanannya secara mandiri.
Perbedaan cara pandang inilah yang menurut Moskow menjadi akar berbagai perselisihan yang berkembang dalam hubungan internasional Eropa. Bagi Rusia, krisis yang muncul beberapa tahun terakhir bukanlah peristiwa yang terjadi secara tiba-tiba, melainkan hasil dari akumulasi ketegangan yang telah berkembang sejak awal 2010-an. ***




