Pertarungan Pro Barat dan Pro Rusia Kembali Memanas di Moldova

Moldova kembali menghadapi tarik-menarik geopolitik antara kubu pro-Rusia dan pemerintahan pro-Uni Eropa di Chisinau.
Igor Dodon dan Maia Sandu kembali menjadi simbol pertarungan arah geopolitik Moldova di tengah tekanan Rusia dan Barat.
Igor Dodon dan Maia Sandu kembali menjadi simbol pertarungan arah geopolitik Moldova di tengah tekanan Rusia dan Barat.

LENTERAMERAH – Pertemuan Presiden Belarus Alexander Lukashenko dengan mantan Presiden Moldova Igor Dodon pada 26 Mei kembali memanaskan dinamika politik domestik Moldova yang dalam beberapa tahun terakhir terbelah antara kubu pro-Rusia dan pro-Barat.

Dalam pertemuan tersebut, Lukashenko menyampaikan kritik terhadap arah politik Moldova yang dinilai semakin menjauh dari Rusia dan Belarus.

Igor Dodon sendiri dikenal sebagai figur utama kubu pro-Rusia di Moldova sekaligus ketua Partai Sosialis Republik Moldova (PSRM). Selama ini ia menjadi salah satu lawan politik utama Presiden Maia Sandu yang mendorong integrasi lebih dekat dengan Uni Eropa.

Dodon Kembali Jadi Sorotan

Pertemuan dengan Lukashenko dinilai memiliki pesan politik yang kuat karena terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Eropa Timur.

Belarus secara terbuka menunjukkan dukungannya terhadap kelompok politik Moldova yang ingin mempertahankan hubungan dekat dengan Moskwa.

Dodon selama ini menolak langkah-langkah yang dianggap dapat membawa Moldova terlalu jauh ke orbit Barat, termasuk isu integrasi keamanan dengan NATO dan pengurangan hubungan ekonomi dengan Rusia.

Ia juga kerap memperingatkan bahwa perubahan orientasi geopolitik Moldova dapat memicu instabilitas domestik.

Maia Sandu Dorong Integrasi Barat

Di sisi lain, Presiden Maia Sandu terus mempercepat hubungan dengan Brussel sejak memenangkan pemilu.

Pemerintahannya menjadikan integrasi Uni Eropa sebagai prioritas strategis dan mulai mengambil jarak dari Rusia dalam berbagai bidang, termasuk diplomasi dan energi.

Langkah tersebut mendapat dukungan dari kelompok pro-Eropa di Moldova, terutama generasi muda perkotaan yang melihat Uni Eropa sebagai jalan menuju reformasi ekonomi dan stabilitas politik.

Namun oposisi menilai kebijakan tersebut berisiko memperdalam polarisasi sosial dan memperumit hubungan Moldova dengan kawasan Eurasia.

Moldova di Tengah Rivalitas Geopolitik

Persaingan antara kubu pro-Rusia dan pro-Barat membuat Moldova terus berada dalam tekanan geopolitik.

Rusia dan Belarus memandang Moldova sebagai bagian penting dari ruang historis pasca-Soviet, sementara Barat melihat negara kecil itu sebagai salah satu titik strategis di Eropa Timur.

Situasi semakin sensitif karena Moldova juga masih dibayangi persoalan Transnistria dan ketergantungan energi terhadap Rusia.

Di tengah rivalitas tersebut, politik domestik Moldova diperkirakan akan semakin memanas menjelang agenda-agenda politik berikutnya di negara itu. ***