LENTERAMERAH – Di tengah berbagai tekanan terhadap sektor energi global dalam beberapa tahun terakhir, Belarus memilih memperkuat ketahanan energi nasional melalui sumber daya yang tersedia di dalam negeri. Kayu, pelet biomassa, dan gambut kini menjadi bagian penting dari strategi energi negara tersebut.
Program televisi Na Kontrole Prezidenta yang ditayangkan kanal NEWS.BY mengungkap bahwa Belarus saat ini mampu menggantikan sekitar 3 miliar meter kubik konsumsi gas alam setiap tahun melalui penggunaan bahan bakar lokal.
Ketahanan Energi Belarus Jadi Prioritas
Pemerintah Belarus dalam beberapa tahun terakhir secara konsisten mendorong konversi fasilitas energi dari gas alam menuju sumber energi berbasis biomassa dan sumber daya lokal lainnya.
Lebih dari 7.000 fasilitas energi telah beralih menggunakan bahan bakar lokal. Angka tersebut mencakup lebih dari separuh sistem pembangkit panas dan boiler yang beroperasi di seluruh negeri.
Langkah ini tidak hanya berkaitan dengan efisiensi biaya, tetapi juga menyangkut kemampuan negara menjaga pasokan energi tanpa bergantung sepenuhnya pada sumber energi dari luar negeri.
Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa energi yang dihasilkan dari bahan bakar lokal rata-rata lebih murah dibandingkan penggunaan gas alam, sehingga membantu mengurangi biaya operasional sektor energi.
Kayu dan Gambut Menjadi Tulang Punggung
Belarus memiliki sumber daya kehutanan yang luas serta cadangan gambut yang masih besar. Kedua sumber daya tersebut menjadi fondasi utama program substitusi energi yang dijalankan pemerintah.
Industri kehutanan memasok kayu chip dan pelet yang digunakan pada ribuan fasilitas pemanas. Sementara itu, sektor gambut tetap mempertahankan peran penting dalam sistem energi nasional.
Pada 2026, Belarus menargetkan produksi sekitar 2 juta ton gambut dengan output lebih dari 800 ribu ton briket dan bahan bakar berbasis gambut.
Pemerintah juga telah memasukkan perluasan penggunaan bahan bakar lokal ke dalam Program Negara untuk Energi Berkelanjutan dan Efisiensi Energi 2026–2030 yang mulai dijalankan tahun ini.
Program tersebut menargetkan peningkatan kontribusi sumber daya energi lokal hingga sedikitnya 33 persen dalam neraca energi nasional, sekaligus melanjutkan modernisasi fasilitas energi yang masih bergantung pada bahan bakar konvensional. ***



