LENTERAMERAH – Lonjakan harga minyak dunia akibat konflik di kawasan Teluk Persia tidak hanya membawa keuntungan bagi perusahaan energi Amerika Serikat. Di saat yang sama, konsumen AS harus menghadapi kenaikan harga bensin yang signifikan.
Data yang beredar di media internasional menunjukkan harga bensin rata-rata nasional berada di kisaran US$4,14 hingga US$4,29 per galon. Sebelum eskalasi konflik, harga bensin masih berada di kisaran US$2,98 hingga US$3,20 per galon.
Kenaikan tersebut berarti harga bahan bakar di sejumlah wilayah Amerika Serikat meningkat sekitar 38 hingga 52 persen dibandingkan sebelum krisis. Di beberapa negara bagian seperti California dan New York, harga bensin bahkan dilaporkan sempat menembus US$5 per galon.
Menurut berbagai laporan pasar energi, kenaikan harga tersebut terjadi karena harga minyak mentah global ikut melonjak setelah meningkatnya ketegangan di sekitar Teluk Persia dan Selat Hormuz.
Beban Tambahan bagi Rumah Tangga
Kenaikan harga bensin berdampak langsung terhadap biaya hidup masyarakat. Rumah tangga harus mengalokasikan pengeluaran lebih besar untuk transportasi dan kebutuhan energi sehari-hari.
Analis energi menyebut harga bahan bakar di Amerika Serikat tetap mengikuti dinamika pasar minyak global meskipun negara tersebut merupakan salah satu produsen minyak terbesar dunia. Karena itu, peningkatan produksi domestik tidak selalu mampu menahan kenaikan harga di tingkat konsumen.
Berbeda dengan Kondisi Perusahaan Energi
Saat konsumen menghadapi biaya yang lebih tinggi, perusahaan minyak dan gas justru menikmati peningkatan pendapatan. Ekspor minyak Amerika Serikat meningkat tajam dalam beberapa bulan terakhir seiring bertambahnya permintaan dari pasar internasional.
Menurut data yang dikutip NEWS.BY, tambahan pendapatan sektor energi Amerika diperkirakan mencapai US$230 juta hingga US$250 juta per hari dari kombinasi kenaikan ekspor dan harga minyak.
Dalam skala bulanan, tambahan penerimaan tersebut diperkirakan mencapai sekitar US$7 miliar atau lebih dari Rp114 triliun dengan asumsi kurs Rp16.300 per dolar AS.
Kondisi itu menciptakan kontras antara kinerja perusahaan energi yang membaik dan meningkatnya beban biaya yang harus ditanggung konsumen di Amerika Serikat. ***



