LENTERAMERAH – Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance melontarkan kritik kepada sejumlah pejabat Israel yang menyerang kesepakatan terbaru antara Washington dan Teheran.
Pernyataan itu disampaikan Vance dalam briefing di Gedung Putih setelah pemerintahan Presiden Donald Trump mendorong implementasi Memorandum of Understanding (MoU) antara Amerika Serikat dan Iran yang membuka jalur negosiasi lanjutan selama 60 hari ke depan.
Menanggapi kritik dari sejumlah anggota kabinet Israel, Vance mengatakan dirinya tidak akan menyerang satu-satunya sekutu kuat yang masih dimiliki apabila berada dalam posisi mereka.
“Jika saya berada di kabinet pemerintah Israel, saya mungkin tidak akan menyerang satu-satunya sekutu kuat yang saya miliki di seluruh dunia,” kata Vance.
Soroti Ketergantungan Israel pada Amerika Serikat
Dalam keterangannya, Vance menegaskan bahwa Amerika Serikat tetap menjadi pendukung utama Israel, baik secara politik maupun militer.
Ia menyebut Presiden Donald Trump sebagai salah satu pemimpin dunia yang masih memberikan dukungan kuat kepada Israel di tengah meningkatnya tekanan internasional terhadap negara tersebut.
Vance juga menyoroti besarnya kontribusi Amerika Serikat terhadap kemampuan pertahanan Israel. Menurutnya, sekitar dua pertiga persenjataan yang digunakan Israel dalam beberapa bulan terakhir berasal dari Amerika Serikat dan didanai oleh pembayar pajak Amerika.
Selain itu, ia mengingatkan bahwa Israel saat ini menghadapi tingkat isolasi internasional yang lebih besar dibanding beberapa tahun sebelumnya.
Kritik terhadap Sejumlah Menteri Israel
Vance membedakan antara Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan beberapa anggota kabinetnya yang secara terbuka mengkritik kesepakatan AS-Iran.
Menurutnya, Netanyahu tidak secara langsung menyerang Presiden Trump, sementara sejumlah tokoh lain di pemerintahan Israel justru melontarkan kritik keras terhadap arah kebijakan Washington.
Pernyataan tersebut muncul ketika kesepakatan AS-Iran memicu perdebatan di Israel. Sejumlah kelompok menilai langkah Washington berpotensi memberikan ruang yang lebih besar bagi Teheran melalui pelonggaran sanksi dan pembukaan jalur diplomasi baru.
Di sisi lain, pemerintahan Trump berargumen bahwa kesepakatan tersebut diperlukan untuk menjaga stabilitas kawasan, menjamin kebebasan pelayaran di Selat Hormuz, serta membuka jalan bagi penyelesaian berbagai isu yang masih menjadi sumber ketegangan antara kedua negara. ***



