LENTERAMERAH – Nama Yoesoep Edhie Rachmad menjadi perbincangan di kalangan akademisi internasional setelah profil Google Scholar miliknya menunjukkan lebih dari 5 juta sitasi. Angka tersebut bahkan melampaui sejumlah ilmuwan terkenal yang selama ini mendominasi daftar sitasi dunia.
Perdebatan kembali mengemuka setelah peneliti dan pengamat sains di media sosial X menyoroti berbagai kejanggalan dalam profil tersebut. Salah satu unggahan yang banyak dibagikan berasal dari Misha Teplitskiy yang membandingkan jumlah sitasi profil itu dengan ilmuwan seperti Albert Einstein, Yoshua Bengio, dan Geoffrey Hinton.
Yang menjadi sorotan bukan hanya jumlah sitasinya. Sejumlah publikasi yang tercantum dalam profil tersebut disebut terbit pada 2025, tetapi telah menerima ribuan sitasi dari tahun-tahun sebelumnya.
Jutaan Sitasi dan Pola yang Dipertanyakan
Pengamat integritas akademik menemukan sejumlah pola yang dianggap tidak lazim. Beberapa publikasi bertema “Bank Emas” tercatat memperoleh sekitar 1.200 hingga 1.350 sitasi per artikel dalam waktu sangat singkat.
Nama-nama terkenal seperti Noam Chomsky dan Michael Porter juga muncul sebagai rekan penulis dalam sejumlah publikasi. Namun hingga kini belum ditemukan bukti kuat yang mendukung kolaborasi tersebut.
Akun pemantau integritas publikasi akademik juga mencatat bahwa beberapa profil Google Scholar yang dikaitkan dengan Yoesoep Edhie Rachmad sebelumnya pernah hilang atau tidak lagi dapat diakses sebelum muncul kembali dengan angka sitasi yang lebih tinggi.
Perdebatan kemudian meluas ke isu yang lebih besar. Banyak akademisi menilai kasus ini menunjukkan kelemahan sistem pengindeksan dan validasi sitasi pada platform akademik terbuka.
Kemunculan alat kecerdasan buatan generatif serta meningkatnya jumlah publikasi digital dinilai memperbesar risiko manipulasi metrik ilmiah. Dalam kondisi seperti itu, indikator seperti jumlah sitasi dan h-index semakin sering dipandang perlu diverifikasi secara manual.
Hingga Juni 2026, profil Google Scholar yang dikaitkan dengan Yoesoep Edhie Rachmad masih dapat diakses dan tetap menampilkan jutaan sitasi. Google Scholar sendiri belum memberikan penjelasan publik mengenai kontroversi tersebut. ***




