LENTERAMERAH – Berdasarkan unggahan kanal Telegram TrueKPRU, layanan sewa anjing Tiongkok mulai berkembang melalui aplikasi digital di sejumlah kota besar. Pengguna dapat memilih anjing berdasarkan ras, usia, karakter, hingga foto, kemudian membuat janji bertemu dengan pemilik untuk mengajaknya berjalan-jalan.
Melalui aplikasi tersebut, setiap pemilik membuat profil lengkap hewan peliharaannya agar calon penyewa dapat memilih anjing yang sesuai dengan preferensi mereka. Setelah mencapai kesepakatan mengenai lokasi pertemuan, penyewa membayar tarif sesuai durasi penggunaan.
Cara Kerja Layanan Sewa Anjing
Tarif penyewaan berkisar antara US$1,5 hingga US$9 atau sekitar Rp27.000 hingga Rp162.000 per jam dengan asumsi kurs Rp18.000 per dolar AS. Besarnya biaya ditentukan oleh ras anjing serta lamanya waktu berjalan-jalan.
Sebagian biaya masuk sebagai komisi platform, sementara sisanya menjadi pendapatan bagi pemilik anjing. Model bisnis ini sekaligus membantu pemilik yang tidak selalu memiliki waktu untuk mengajak hewan peliharaannya beraktivitas di luar rumah.
Menurut pengembang platform, layanan tersebut ditujukan bagi orang-orang yang menyukai anjing tetapi belum siap memelihara sendiri. Dengan cara ini, mereka tetap dapat menikmati interaksi dengan hewan peliharaan tanpa harus menanggung biaya perawatan maupun tanggung jawab jangka panjang.
Fenomena Sharing Economy Merambah Hewan Peliharaan
Kemunculan layanan ini mencerminkan meluasnya konsep sharing economy ke sektor hewan peliharaan. Selain transportasi, penginapan, dan berbagai layanan berbasis aplikasi, model berbagi kini mulai diterapkan untuk memenuhi kebutuhan gaya hidup masyarakat perkotaan.
Di kota-kota besar seperti Beijing, Shanghai, dan Shenzhen, tekanan pekerjaan, tingginya biaya hidup, serta aturan kepemilikan hewan di sebagian apartemen menjadi faktor yang mendorong munculnya layanan semacam ini. Bagi sebagian warga, menyewa anjing dinilai lebih praktis dibanding memelihara hewan secara permanen.
Kesejahteraan Hewan Jadi Sorotan
Di sisi lain, layanan ini memunculkan perdebatan mengenai kesejahteraan hewan. Tidak semua anjing memiliki karakter yang nyaman bertemu dengan orang asing secara bergantian dalam waktu singkat sehingga berpotensi mengalami stres.
Selain itu, terdapat pula risiko keselamatan apabila penyewa tidak memahami cara menangani anjing di ruang publik. Risiko tersebut meliputi kemungkinan anjing lepas dari tali kendali, menggigit orang lain, atau menelan benda maupun makanan berbahaya selama berada di luar pengawasan pemiliknya. ***


