Indonesia Siapkan Avtur dari Surplus Solar Strategi Baru Akhiri Impor Bahan Bakar Pesawat

Pemerintah berencana mengubah surplus solar menjadi avtur mulai 2027 sebagai bagian dari strategi mengurangi impor dan memperkuat ketahanan energi nasional.
Surplus solar akibat program B50 akan dimanfaatkan menjadi avtur. Pemerintah juga menyiapkan pembangunan kilang untuk bensin beroktan tinggi.

LENTERAMERAH – Indonesia bersiap memanfaatkan surplus solar untuk memproduksi bahan bakar pesawat (avtur) mulai 2027. Langkah ini menjadi bagian dari strategi pemerintah mengurangi ketergantungan terhadap impor sekaligus memperkuat kemandirian energi nasional.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebut Indonesia diproyeksikan memiliki surplus solar sekitar 3–4 juta kiloliter setelah implementasi biodiesel B50 dan peningkatan kapasitas Kilang Balikpapan. Pernyataan tersebut disampaikan dalam agenda Kementerian ESDM yang kemudian dikutip sejumlah media internasional, termasuk Sputnik International.

Solar Berlebih Diubah Menjadi Avtur

Menurut Bahlil, karakteristik bahan baku solar dan avtur memiliki kemiripan sehingga surplus produksi dapat diarahkan menjadi bahan bakar penerbangan melalui proses pengolahan di kilang.

Selain avtur, pemerintah juga menyiapkan pembangunan fasilitas produksi bensin beroktan 92, 95, dan 98 guna memperkuat pasokan bahan bakar nasional dari dalam negeri.

B50 Ubah Peta Energi Indonesia

Program biodiesel B50 membuat Indonesia tidak lagi bergantung pada impor solar. Sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia, Indonesia memanfaatkan campuran 50 persen biodiesel berbasis sawit untuk memenuhi kebutuhan sektor transportasi dan industri.

Kapasitas Kilang Balikpapan yang ditingkatkan hingga sekitar 360 ribu barel per hari juga diproyeksikan memperbesar pasokan bahan bakar hasil pengolahan dalam negeri.

Peluang Besar, Tantangan Juga Muncul

Di balik peluang memperkuat ketahanan energi, kebijakan ini juga memunculkan sejumlah tantangan. Meningkatnya kebutuhan minyak sawit sebagai bahan baku energi berpotensi menekan pasokan untuk pangan sehingga memengaruhi harga minyak goreng.

Di sisi lain, perluasan perkebunan sawit untuk memenuhi kebutuhan biodiesel juga kembali memunculkan perhatian terhadap dampak lingkungan, termasuk perubahan tutupan lahan dan keberlanjutan industri sawit.

Jika strategi tersebut berjalan sesuai rencana, Indonesia tidak hanya mengakhiri impor solar, tetapi juga berpeluang menghentikan impor avtur. Itu akan menjadi salah satu perubahan terbesar dalam kebijakan energi nasional, dari negara pengimpor bahan bakar menjadi negara yang semakin mengandalkan hasil pengolahan energinya sendiri. ***