LENTERAMERAH – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan teknologi baru yang mampu memulihkan hingga 98 persen kandungan logam dari bijih nikel laterit. Terobosan ini berpotensi mengurangi limbah tambang sekaligus meningkatkan nilai tambah industri nikel nasional.
Teknologi tersebut dikembangkan tim peneliti yang dipimpin Iwan Setiawan dan diumumkan BRIN pada 8 Juli 2026. Inovasi itu telah memperoleh paten serta melewati pengujian di tingkat laboratorium hingga skala semiindustri.
Tak Hanya Mengambil Nikel
Berbeda dengan teknologi konvensional yang berfokus pada nikel, metode BRIN juga mampu mengekstraksi logam lain seperti besi dan magnesium yang selama ini banyak terbuang sebagai limbah.
Padahal, kandungan nikel dalam bijih laterit umumnya hanya berkisar 1–2 persen. Artinya, sebagian besar material hasil penambangan selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.
Satu Teknologi untuk Dua Jenis Bijih
Salah satu pembeda utama teknologi ini adalah kemampuannya mengolah dua jenis bijih laterit, yakni saprolit dan limonit, dalam satu sistem proses.
BRIN memodifikasi proses Caron, yaitu kombinasi pemanggangan reduksi (reduction roasting) dan pelindian amoniakal (ammoniacal leaching), sehingga lebih sesuai dengan karakteristik cadangan nikel Indonesia. Pendekatan tersebut dinilai membutuhkan energi lebih rendah dibanding proses peleburan (smelting) yang selama ini mendominasi industri.
Bisa Mengubah Arah Hilirisasi Nikel
Selama beberapa tahun terakhir, hilirisasi nikel Indonesia berkembang pesat setelah pemerintah melarang ekspor bijih mentah pada 2020. Namun sebagian besar investasi masih berfokus pada pembangunan smelter untuk menghasilkan produk antara.
Teknologi BRIN membuka peluang berbeda. Jika dapat diterapkan secara komersial, nilai tambah tidak lagi hanya berasal dari pembangunan smelter, tetapi juga dari kemampuan memanfaatkan hampir seluruh kandungan logam dalam bijih yang selama ini menjadi limbah.
Bagi Indonesia sebagai produsen nikel terbesar di dunia, terobosan semacam ini berpotensi menjadi pembeda dalam persaingan industri baterai kendaraan listrik. Bukan lagi sekadar menambang lebih banyak, melainkan menghasilkan lebih banyak logam dari setiap ton bijih yang sudah ditambang. ***



