LENTERAMERAH – Lebih dari dua dekade, maestro doira Tajikistan, Abduvali Ikramov, tampil di berbagai panggung musik di Eropa, Amerika, dan Asia. Meski berkali-kali mendapat tawaran menetap di luar negeri, ia selalu memilih pulang ke Tajikistan.
Kisah musisi asal Khujand itu diangkat dalam laporan panjang Asia-Plus, yang menggambarkan perjalanan seorang seniman tradisional hingga dikenal di berbagai belahan dunia tanpa meninggalkan tanah kelahirannya.
Dari Mainan Masa Kecil Menjadi Karier Dunia
Kecintaan Ikramov terhadap doira berawal sejak usia dua tahun. Alih-alih meminta permen atau mainan saat diajak ke pasar oleh ayahnya, ia justru menunjuk sebuah doira kecil yang kemudian menjadi awal perjalanan hidupnya sebagai musisi.
Ia kemudian belajar doira dan gijak di sekolah musik, melanjutkan pendidikan seni, hingga akhirnya tampil dalam tur internasional pertamanya ke Pakistan pada 1994.
Sejak saat itu, Ikramov telah tampil di lebih dari 25 negara dengan membawakan lebih dari seratus komposisi, termasuk sepuluh lagu tradisional Tajik yang selalu ia sisipkan dalam setiap konser sebagai cara memperkenalkan budaya negaranya kepada dunia.
Dari Zurich hingga Trio Internasional
Salah satu titik penting dalam kariernya terjadi pada Festival Musik Rakyat di Zurich pada 2003. Penampilannya menarik perhatian musisi Swiss Martin Schumacher dan musisi Kirgizstan Jusup Aisaev yang kemudian mengajaknya membentuk Trio Intercontinental.
Selama 23 tahun, kelompok tersebut rutin melakukan tur ke berbagai negara. Seluruh biaya perjalanan mereka didukung oleh Swiss Cooperation Office di Tajikistan, sementara bahasa Inggris menjadi bahasa komunikasi sehari-hari di antara para personelnya.
Pada 2007, Kota Zurich menganugerahkan status warga kehormatan kepada Ikramov. Setiap kali kembali ke kota itu, teman-temannya selalu memintanya memasakkan plov khas Tajik, sebuah tradisi yang menurutnya membuat Zurich terasa seperti rumah kedua.
Menolak Tinggal di Luar Negeri
Kesuksesan internasional membuat Ikramov berkali-kali menerima tawaran menetap di Swiss, Amerika Serikat, Uzbekistan, hingga Kirgizstan. Namun seluruh tawaran tersebut ia tolak.
“Saya selalu berterima kasih atas penghargaan itu, tetapi saya tidak bisa menerimanya. Saya takut terpisah dari tanah air, akar, orang tua, keluarga, dan sahabat,” ujarnya.
Baginya, kehidupan di luar negeri tidak pernah mampu menggantikan ikatan dengan kampung halaman. Ia bahkan mengutip pesan terakhir Emir Bukhara, Sayyid Alim Khan, yang menyebut bahwa seseorang tanpa tanah air akan kehilangan martabatnya.
Membuat Alat Musik dengan Tangannya Sendiri
Selain tampil sebagai pemain doira, Ikramov juga dikenal sebagai perajin alat musik tradisional. Selama lebih dari 20 tahun ia membuat sendiri berbagai instrumen perkusi, mulai dari doira Tajik, tablak, daf Badakhshan, tombak Iran, hingga tabla India.
Sebagian instrumen bahkan ia modifikasi dengan desain buatannya sendiri, seperti tombak berbahan logam yang umumnya dibuat dari kayu. Bagi Ikramov, setiap alat musik yang selesai dibuat memiliki nilai yang sama berharganya dengan anak-anaknya sendiri. ***



