LENTERAMERAH – Dua puluh tiga tahun setelah sebuah laporan investigasi diterbitkan, persoalan yang dihadapi petani Tajikistan dinilai belum banyak berubah. Mereka masih menghadapi tekanan administratif, keterbatasan akses pembiayaan, dan campur tangan birokrasi yang membuat keputusan paling mendasar di lahan pertanian belum sepenuhnya berada di tangan petani.
Laporan tersebut pertama kali diterbitkan pada 2003 dan kembali dipublikasikan Asia-Plus sebagai bagian dari peringatan 30 tahun media tersebut. Redaksi menilai pertanyaan yang diajukan lebih dari dua dekade lalu masih tetap relevan, yakni apakah petani benar-benar telah menjadi pemilik penuh atas tanah yang mereka garap.
Masih Sulit Menentukan Apa yang Akan Ditanam
Meski sistem pertanian Tajikistan telah mengalami berbagai perubahan, banyak petani disebut masih belum bebas menentukan komoditas yang ingin mereka tanam maupun waktu untuk mulai mengolah lahan.
Selain tekanan administratif, persoalan lain yang terus muncul adalah sulitnya memperoleh kredit dengan bunga yang terjangkau. Akibatnya, ruang gerak petani untuk mengambil keputusan berdasarkan kebutuhan pasar maupun kondisi lahannya menjadi terbatas.
Reformasi Belum Sepenuhnya Mengubah Posisi Petani
Setelah kemerdekaan Tajikistan, pemerintah menjalankan reformasi pertanian dengan membentuk sistem pertanian dehkan, yaitu kepemilikan atau pengelolaan lahan oleh petani. Namun dalam praktiknya, berbagai keputusan strategis di sektor pertanian masih disebut dipengaruhi struktur birokrasi di tingkat daerah.
Persoalan tersebut membuat sebagian petani belum sepenuhnya memiliki keleluasaan sebagai pengelola lahan, meski secara administratif reformasi agraria telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Bukan Sekadar Soal Pertanian
Laporan Asia-Plus menunjukkan isu ini tidak hanya berkaitan dengan produksi pangan, tetapi juga menyangkut kemandirian ekonomi masyarakat pedesaan. Selama petani belum memiliki keleluasaan menentukan apa yang ditanam dan bagaimana mengelola lahannya, reformasi pertanian dinilai masih menyisakan pekerjaan rumah yang belum benar-benar selesai. ***



