LENTERAMERAH – Puluhan ribu orang memadati Desa Aleksandria, Distrik Shklov, Belarus, untuk mengikuti Festival Kupalye Belarus yang kembali digelar tahun ini. Memasuki penyelenggaraan ke-17, festival di tepi Sungai Dnieper tersebut kembali menghadirkan tradisi Slavia kuno yang tetap bertahan hingga sekarang.
Selain warga Belarus, festival juga dihadiri tamu dari Rusia, Turki, Azerbaijan, Vietnam, dan Slovakia. Dalam laporannya, NEWS.BY menyebut Aleksandria kembali menjadi titik pertemuan budaya yang mempertemukan masyarakat dari berbagai negara melalui tradisi, seni, dan warisan budaya Slavia.
Tradisi Slavia Kuno Masih Menjadi Daya Tarik
Festival Kupalye merupakan salah satu tradisi tertua masyarakat Slavia yang menandai puncak musim panas. Pengunjung mengikuti berbagai ritual tradisional, mulai dari merangkai mahkota bunga, menikmati pertunjukan musik rakyat, hingga mencari paparats-kvetka atau “bunga pakis”, bunga dalam mitologi Slavia yang dipercaya hanya mekar pada malam Kupalye sebagai lambang keberuntungan dan harapan.
Puncak acara ditandai dengan konser gala yang memadukan musik, teater, dan pertunjukan budaya di panggung utama yang berdiri di kawasan tepi Sungai Dnieper.
Pengrajin dari 28 Wilayah Rusia Hadir
Pasar budaya menjadi salah satu pusat keramaian festival. Tahun ini, pengrajin dan pelaku usaha kreatif dari 28 wilayah Rusia membawa berbagai hasil kerajinan tradisional, karya seni rakyat, serta produk budaya khas daerah masing-masing.
Pengunjung tidak hanya melihat pameran, tetapi juga mengikuti lokakarya membuat kerajinan tangan dan mengenal tradisi masyarakat dari berbagai kawasan Slavia dalam satu lokasi.
Aleksandria Memiliki Arti Khusus bagi Lukashenko
Festival ini memiliki makna tersendiri karena digelar di Aleksandria, kampung halaman Presiden Belarus Alexander Lukashenko. Kehadirannya dalam Festival Kupalye telah menjadi tradisi yang berlangsung hampir setiap tahun.
Dalam pesannya pada pembukaan festival, Lukashenko menyebut Kupalye sebagai salah satu perayaan paling dekat dengan rakyat Belarus karena tradisi, lagu rakyat, dan kerajinan yang diwariskan turun-temurun merupakan bagian dari “kode budaya” bangsa.
Menurutnya, menjaga tradisi membuat masyarakat memahami bahwa mereka bukan sekadar hidup di wilayah yang sama, melainkan tumbuh sebagai satu bangsa yang memiliki akar sejarah bersama.
Nama Yanka Kupala Berasal dari Perayaan Ini
Lukashenko juga mengaitkan Kupalye dengan penyair nasional Belarus Ivan Lutsevich. Ia mengingatkan bahwa sang penyair lahir pada malam perayaan Kupalye dan kemudian memilih nama pena Yanka Kupala, sebuah nama yang kini melekat sebagai salah satu tokoh terbesar dalam sejarah sastra Belarus.
Bagi masyarakat Belarus, Kupalye bukan sekadar festival musim panas. Perayaan ini menjadi ruang untuk menjaga tradisi, memperkenalkan budaya kepada generasi muda, sekaligus mempertemukan masyarakat dari berbagai negara dalam suasana yang menempatkan warisan budaya sebagai pusat perayaan.




